Jakarta — Enam Bulan Kemudian
Klakson dari jalan raya di bawah studio masuk lewat jendela yang sengaja kubiarkan terbuka satu jengkal, bercampur deru AC gedung sebelah yang tak pernah benar-benar berhenti, siang atau malam. Enam bulan lalu suara-suara ini adalah suara rumah yang tak pernah kupertanyakan. Sekarang, entah sejak kapan, aku mendapati diriku sesekali berhenti di tengah pekerjaan hanya untuk menyadari betapa jarang kota ini benar-benar sunyi, dan betapa aku sudah lupa rasanya duduk di suatu tempat tanpa suara kendaraan mengisi setiap celah yang tersisa.
Studio baruku lebih kecil dari showroom yang dulu—separuh dari luasnya, dengan dinding bata ekspos yang catnya sengaja tak diaplikasikan penuh, tempat aku menutup usaha lama tiga bulan lalu setelah negosiasi dengan investor baru yang bersedia masuk dengan satu syarat: aku memulai lini yang benar-benar berbeda dari yang selama ini kukerjakan.
Aku duduk di meja kerja pagi ini dengan beberapa sketsa tersebar di depanku—koleksi yang akan kuluncurkan bulan depan, dengan motif yang sama sekali berbeda dari apa pun yang pernah kubuat sebelumnya. Bukan lagi potongan geometris tajam, bukan lagi warna-warna berani yang selalu jadi ciri khasku selama bertahun-tahun di industri ini. Sekarang garis-garisnya mengalir, organik, dengan warna-warna yang lebih dalam dan lebih tenang—merah tua yang gelap, biru yang hampir hitam, motif yang terasa seperti sesuatu yang tumbuh alih-alih sesuatu yang dipotong dari kain yang tak lagi punya suara untuk menolak.
Ujung jari telunjukku, ketika aku menekan pensil ke kertas sketsa, masih menyimpan titik-titik putih kecil bekas jarum pentul—bertambah satu lagi minggu ini, di ruas paling ujung, hampir tak terlihat kecuali aku sendiri yang tahu di mana harus mencarinya.
Di sudut meja, disematkan ke papan gabus dengan satu jarum pentul yang sama, selembar swatch kain merah tua yang sudah kubawa ke mana pun aku pergi selama bertahun-tahun tanpa pernah tahu dari mana asalnya—sekarang bukan lagi disembunyikan di saku, melainkan digantung di tempat yang bisa dilihat siapa pun yang masuk ke ruangan ini.
Asisten baruku bertanya minggu lalu dari mana inspirasi koleksi ini datang, jarinya masih ragu di atas tablet gambar yang belum sepenuhnya dia kuasai, seolah pertanyaan itu sendiri butuh keberanian untuk diucapkan kepada atasan yang baru dia kenal tiga bulan.
“Dari sesuatu yang tidak selesai,” jawabku.
Aku tak menjelaskan lebih jauh. Penjelasan yang lebih lengkap membutuhkan cerita yang belum siap kubagikan kepada orang yang baru mengenalku sesingkat itu.
* * *
Ponselku bergetar di sudut meja, layarnya menyala menampilkan nama Junu di atas gambar mini yang belum sepenuhnya termuat. Notifikasi foto, dikirim tanpa banyak kata seperti biasa dia lakukan akhir-akhir ini—liat deh adalah satu-satunya keterangan yang menyertainya, tanpa tanda baca, tanpa emoji, seolah kata-kata sudah tak lagi cukup untuk apa yang ingin dia tunjukkan.
Aku membuka foto itu.
Interior yang kulihat butuh beberapa detik untuk kukenali sepenuhnya, meski aku sudah tahu apa yang akan kulihat sejak Junu bercerita tentang progres renovasinya minggu demi minggu selama enam bulan terakhir lewat pesan-pesan singkat yang jarang lebih dari tiga kalimat. Lantai kayu jati yang masih sama, masih dengan tekstur yang kukenal sejak kecil, tapi sekarang dipoles sampai mengkilap lembut, memantulkan cahaya dari jendela-jendela baru yang Junu tambahkan di sisi yang dulu tak pernah mendapat cahaya cukup. Meja kasir tua sudah diubah jadi meja display, dengan timbangan bebek kuningan diletakkan di atasnya sebagai ornamen, bukan lagi sebagai alat kerja, tapi masih di posisi yang sama persis seperti dulu, seolah menolak untuk benar-benar pensiun dari perannya.
Rak-rak kayu yang dulu penuh stoples berdebu sekarang berisi buku-buku yang tersusun rapi berdasarkan warna sampul, menciptakan gradien yang aku tahu pasti sentuhan estetika Junu, yang mungkin baru dia sadari sendiri sebagai bakat setelah bertahun-tahun mengira dirinya hanya bisa membidik kamera.