Clea menatap wajahnya di cermin toilet. Wajah lonjongnya tampak apik dengan riasan lengkap. Matanya bening, menatap sedikit sayu. Ia monyongkan bibir merahnya sedikit, menengok sedikit ke kiri dan ke kanan memastikan rambutnya yang panjang terurai sampai ke ujung leher tidak menutupi kedua telinganya. Ia keluar dari kamar kecil, berjalan tenang memasuki sebuah ruangan besar. Lampu kuning di langit-langit tidak kuasa menerangi setiap sudutnya. Beberapa belas wanita muda duduk mengelilingi ruangan. Beberapa dari mereka menatapnya lekat ketika ia melangkah masuk, sisanya tak mengacuhkannya. Clea mendudukkan dirinya ke salah satu kursi yang masih kosong.
Ia mengedarkan pandangan sekilas ke sekitarnya. Beberapa dari para wanita itu bertubuh gemuk. Ada satu yang mirip seperti tabungan babi: pendek, gemuk, dengan tungkai montok dan rok mini. Clea membayangkan mengiris punggung gemuknya dengan pisau lalu memasukkan koin-koin ke dalamnya. Beberapa dari mereka berwajah tirus dengan mata tajam bak putri jahat di cerita Putri Salju dan Tujuh Kurcaci. Yang lain berambut panjang, ada yang lurus ada yang bergelombang, dan setidaknya dua orang berambut pendek. Pakaian mereka hampir senada: rok mini, blus atau kaus ketat melekat di tubuh dengan potongan leher rendah dan riasan wajah level maksimal. Clea tanpa sadar menatap kedua tungkainya yang terbalut rok mini. Tatapannya berakhir di ujung sepatu hitam berhak tinggi yang membungkus kedua telapak kakinya.
Sekitar setengah jam berlalu. Clea membuka pembicaraan ringan dengan perempuan di sebelahnya. Temannya yang kelihatan lebih periang bergabung tanpa diminta dan ocehannya mengisi ruang senyap. Mereka tertawa kecil dan makin larut dalam obrolan.
Seseorang muncul dari sebuah kamar di ujung. Sosok itu seorang wanita usia 40 an tahun, tinggi langsing, dengan kacamata berbingkai hitam dan rambut ditarik ke belakang membentuk sanggul kecil. Ia mengedarkan pandangan tajam ke seisi ruangan, memaksa para perempuan itu berhenti berbicara.
"Selamat malam semua!" sapanya, dan tanpa menunggu ucapan balasan ia meneruskan: "Panggil saya Quuen. Saya yang mengelola Anda semua!"
Ia menarik dan membuka selembar kertas dari tangannya.
"Kami sudah melihat Anda semua secara live," ia menggerakkan pandangannya ke langit-langit. Clea mengikuti arahnya dan melihat sebuah benda putih bulat dengan semacam lensa di depannya berputar perlahan-lahan.
"Saya akan membacakan nama-nama yang terpilih seleksi untuk ke ibu kota dua," ia berucap lantang. "Yang saya sebut, segera keluar dari ruangan ini. Di depan, di pintu masuk, akan ada beberapa berkas yang perlu Anda bawa. Baca dan ikuti dengan benar semua perintah disitu. Paham ya?"