"Mbak Queen," kali ini Clea memotong ujarannya. "Saya bisa pastikan saya sehat. Dan bersih. Saya rutin memeriksakan diri, minum vitamin, ada buku jurnal pemeriksaannya. Bisa saya tunjukkan kalau Queen belum percaya."
Queen kelihatan puas. "OK. Tentang imbalan, di depan lebih baik aku ngomong terang-terangan: Empat puluh enam puluh. Paham ya?"
"Ya, Queen. Empat puluh persen Mbak ambil, sisanya untuk saya."
"Bagus," Queen tersenyum, membetulkan sekilas sanggul kecilnya di belakang kepala, lalu melanjutkan: "Itu sudah pantas. Selama kamu menjadi escortnya, aku yang memastikan keamananmu, memastikan kesehatanmu, merawat penampilanmu, plus juga mencarikan pekerjaan samaran di lembaga yang berkaitan dengan kantornya. Upahmu nanti yang pertama aku potong dengan biaya tes kesehatan. Gak murah itu, bisa jutaan."
Sesaat kemudian ia mengulurkan tangannya meminta sesuatu. "Tunjukkan ke saya semua media sosialmu. Jangan ada yang kamu sembunyikan. Sekali kamu ketahuan menyembunyikan sesuatu di dunia maya, kami akhiri jasamu sebagai escort pak P."
Clea menuruti perintahnya. Sesaat kemudian Queen sudah menggeser-geser layar halaman digital media sosial wanita muda itu. Keningnya berkerut, sesekali lidahnya berdecak, dan kepalanya menggeleng.
"Kamu punya tampang," ujarnya tanpa menatap Clea. "Tapi semua posemu ini pose wanita bookingan murahan. Kamu mah ndak ada bedanya dengan wanita-wanita jual bodi di media sosial. Aku mau kamu hapus semua ini. Kamu ganti dengan yang lebih berkelas, yang sama sekali tidak menampakkan kamu sebagai wanita escort seorang pria berpengaruh dan tajir melintir. Sekarang gini: kamu buat branding yang baru lewat semua medsosmu, terutama Instagram. Buat pesonamu tetap memancar, tapi kamu harus tampil sedikit dingin, agak angkuh, tidak murahan, tidak tebar senyum jalang kesana kemari, tidak ikut tren-tren sampah. Gimana caranya, aku nggak mau tahu. Bikin sendiri, lalu minggu depan tunjukkan hasilnya kepadaku. You got it, Clea?"
"Ya, Queen."
"How well do you speak English?"
"Mmmm . . ehm, . . Yes, I can, Mam. Grammar maybe not good, but I can speaking . . . and people understands me."
"Good!"
"Satu hal lagi yang penting tentang media sosial," Queen melanjutkan. "Kamu tidak boleh menambahkan akun saya dan akun pak P sebagai pengikut. Tapi biarkan akunmu terbuka sehingga kami bisa memeriksanya sewaktu-waktu. Jelas ya?"
"Baik, Queen."
Sesaat kemudian, Queen menengok arlojinya. Sudah hampir pukul sebelas malam.
"Kamu bisa nyetir mobil?"