Pria di depannya berkulit gelap, berambut tebal sedikit ikal dengan beberapa larik putih di dekat pelipisnya. Bibirnya tebal, dengan garis rahang tegas, dan kedua mata lebar di balik kacamata berbingkai emas. Dadanya bidang, kedua lengannya kokoh, dan telapak tangannya dengan jemari kuat meremas tangannya erat ketika mereka bersalaman.
"Panggil saya pak P," ujar pria itu dengan nada dingin. "Kamu . . . Clea?"
Clea mengangguk. "Iya, betul. Clea, pak."
Pak P melepas jabatan tangannya, bergeser mendekati Clea dan sekarang figurnya nampak menjulang di mata gadis itu dari posisi duduknya. Tangan si pria dengan tenang mendarat di bahu Clea.
"Clea, kamu sudah tahu harus bagaimana ya? Queen sudah memberikan arahan ya?"
Clea mengangguk gugup. "Sudah, pak P. Saya . . . harus bersikap tenang, tidak banyak bicara, mendengarkan apa yang bapak ceritakan, dan . . ."
"Bicara sih boleh saja," tukas pria itu. "Lha kalau saya cerita-cerita kamu diam saja kayak boneka Annabelle kan horor jadinya, hahaha. Yang saya tidak mau dengar adalah ceramah sok pintar, atau nasehat yang saya gak minta, debat, apalagi kritikan. Kalau yang kayak gituan mah sudah bosan saya dengar di rapat dan acara-acara formal bersama ibu-ibu sok pintar itu."
Clea tersenyum dan mengangguk. "Siap, pak."
"Saya meminta kamu, ya, khusus kamu, untuk menemani saya melepas penat dan tekanan kerja," pria itu berkata lagi. "Saya hanya ingin kenyamanan dari kamu. Pelukan, belaian, sedikit memanjakan lewat masakan atau apalah, kamu pasti tahu lebih banyak.Tidak ada drama. Sekali saya membaui kamu mulai bikin drama, kamu pergi. Paham ya?"
"Paham, pak," Clea menjawab sambil matanya memandang wajah pria di depannya.
Pak P mendadak mengubah pandangannya menjadi lebih lembut. Lelaki itu lalu duduk di depan Clea. Tangannya terulur meraih kedua tangan wanita itu lalu menggenggamnya. "Kamu manis," bisiknya. "Pandanganmu teduh, dan auramu menenangkan. Kelihatan pintar pula. Hmmm . . . sudah berapa lama kerja kayak gini?"
"Setahun lebih lah, pak."
"Oh, masih baru? Kenapa?'