"Abi Setiawan."
Wanita di depannya masih menunduk di mejanya. Pandangannya lekat ke selembar kertas di tangannya.
"Mbak, Abi Setiawan!"
Kali ini si gadis mendongak. Matanya melebar dan seketika berujar, "Oh, maaf!" Cepat ia letakkan kertas di tangannya dan bergegas memeriksa daftar nama di kertas di atas mejanya. "Abi . . . Setiawan. Nomer 21," gumamnya. Ia lalu menoleh ke tumpukan map di sebelahnya, mengambil satu sesuai nomer itu, dan menyerahkannya ke sang empunya nama di depannya. Sementara pria itu menandatangani lembar terima berkas, ia mengamati wajah pria itu.
Jaket coklatnya melapisi kaos t-shirt berkerah dengan motif garis melintang membungkus tubuhnya. Wajahnya datar tanpa senyum. Rambutnya tebal, beberapa ujungnya menjuntai di belakang kepalanya, menyentuh ujung kerah jaketnya. Sedikit poni di bagian depan seolah menyembunyikan sinar matanya. Gadis itu ingat tampang Anton Cigurh di film "No Country for Old Men". Ia mendorong pandangannya ke bawah. Sepasang sepatu sneakers hitam legam dengan ukuran agak terlalu besar membungkus kedua kakinya.
"Makasih, Mbak," Abi menggumam.
Abi berjalan ke arah pintu masuk. Ia buka map plastik itu dan memeriksa sekilas isinya. Di belakangnya ia dengar suara gadis itu tadi menyapa ramah seorang pria peserta berikutnya.
"Wow, tambah cantik kalo rambutmu digitukan ya?!" sang pria berujar. "Mestinya kamu tiap hari pakai rambut kek gitu, Aurel. Soalnya lehermu ke atas tuh apik, enak dilihat!" Yang dipuji setengah tersipu, meraba rambutnya yang ditata model sanggul low bun. Matanya tak kuasa menyembunyikan kilatan rasa senangnya. Abi seperti bisa melihat kulit terang di leher dan belakang telinganya sedikit merona merah.
"Bisa aja nih, Mas Roy," katanya. "Eh, tapi pujian gak nambah nilai lho!"
Si pria tertawa. "Ya iyalah. Ini kan nilai kinerja, bukan nilai mengagumi gadis cakep!"
"Tuh, kan, tambah menjadi-jadi rayuannya."
Mereka tergelak. Abi mencermati si pria itu. Ramping, tinggi, ia mengenakan kemeja birunya yang pas benar dengan dadanya yang bidang. Warna kemeja itu berpadu serasi dengan pantalon hitamnya yang licin berkilat dan sepasang sepatu pantofel yang berkilat pula ditimpa cahaya lampu. Rambutnya tebal di bagian atas dan kedua sisinya dicukur tipis. Matanya yang lebar sesekali menyipit ketika ia melontarkan ujaran-ujaran menggoda ke gadis di depannya.
Perlahan Abi menyusuri pinggir ruangan. Sekelompok wanita bersenda gurau di satu meja. Seorang di antaranya membisikkan beberapa kata, lalu teman-temannya meledak tertawa. Di meja sebelahnya, seorang pria seusianya mendongak dan melihat ke arahnya. Tangannya melambai dan senyumnya merekah ke seorang lain di belakangnya. Mereka lalu bertegur sapa dan mulai berbicara entah tentang apa.