JERAT CLEA

Atis Dee Jay
Chapter #5

MENGGODA WANITA

Acara selesai sekitar satu jam kemudian. Abi menghabiskan air putih di gelas yang sudah disediakan di meja itu. Sang pria berbatik mengemasi laptopnya, bangkit dari kursi, dan melangkah pergi. Sang bapak tua masih duduk di kursinya, tertegun-tegun sendiri entah kenapa atau tentang apa. Si pria tukang berdehem dan si wanita berblazer kembali terlibat percakapan seru.

Tak jauh dari gedung hotel itu ada sebuah kafe kecil. Abi dan Iwan menyeret langkahnya yang gontai memasuki tempat itu. Mereka duduk di tepi luar. Disitu mereka masih bisa melihat halaman parkir gedung hotel tadi. Beberapa peserta masih berbincang di luar.

Setelah memesan kopi dan makanan kecil, keduanya seperti sepakat terdiam. Pandangan mereka menunduk, lalu berangsur menengadah dan akhirnya melihat ke kejauhan, ke tempat parkir tadi. Tiga orang gadis berceloteh riang, tertawa-tawa sambil mengatur pose foto bersama di depan sebuah mobil Range Rover putih. Seorang pria yang sedang duduk di dalam mobil melambai-lambaikan tangannya ke si pemegang kamera. Entah apa yang ia teriakkan. Salah seorang gadis membuka pintunya dan berusaha menariknya keluar. Tawa seru meledak.

"Makhluk-makhluk berisik!" gumam Abi. Matanya menyipit.

"Yah, . . . mentang-mentang punya harta dan tampang," Iwan menanggapi. "Itu tuh, yang baju merah, sombong banget tadi ketemu aku kayak ga ngeliat. Padahal aku menyapa."

"Oh, ya, yang itu? Emang itu cakep tapi angkuh bener. Lagaknya dah kayak ratu sejagad aja."

"Aku nggak yakin mereka juga lulus."

"Lho, tapi mereka kayaknya lulus semua. Kalau ndak masa ceria kek gitu?"

"Hmm . . . kok bisa ya? Tampang ga ada pinter-pinternya, cuma cantik doang, bisa lulus."

"Yah . . . kayaknya juga lulusnya karena tampang mereka, Wan. Yang kayak kita-kita mah ndak masuk hitungan. Mau ditampilkan juga pasti kalah kinclong sama mereka."

Kedua pria itu terdiam sejenak mengamati sekilas penampilan mereka. Jaket berwarna gelap membungkus tubuh agak berlebih lemak, dan satunya tubuh kerempeng, kaos t-shirt, dan sepatu hitam.

Kerumunan di depan gedung tadi berangsur lenyap. Hanya seorang gadis berpakaian kombinasi blus hitam dan rok merah tadi masih berdiri disitu. Rupanya ia sedang menunggu seseorang.

"Tuh, idolamu," Abi menunjuk wanita itu dengan dagunya.

"Kita culik yuk!" Iwan berujar dengan mata tak lepas dari si gadis di kejauhan. "Terus kita perkosa!"

"Huss! Hahahah!," sergah Abi. "Mmm . . . tapi boleh juga sih idemu itu."

Tanpa berkata-kata lagi, Iwan mendadak bangkit dari bangkunya dan beranjak keluar. Abi melongo sejenak, lalu bangkit menyusul temannya. Berdua mereka berjalan mendekati si gadis. Gadis itu hanya menengok sekilas ke arah mereka lalu matanya memandang ke arah lain.

"Mbak," sapa Iwan. "Mau kemana?"

Gadis itu kini memandang mereka. Kedua pria itu berdiri berdampingan, dengan kedua tangan di saku celana dan jaket mereka, memandang ke wajahnya.

Lihat selengkapnya