Sejak Ana bertemu dengan Apta dari mulai pembahasan kitab hingga tilawah. Kemudian Ana menerima surat dari Apta yang diberikan Bena beberapa waktu lalu, ia jadi semakin banyak melamun. Bahkan, ketika Apta membimbing bayyati Qur'an, ia tidak ikut. Lalu, pembahasan tafsir Jalalain yang dibimbing lelaki itu lagi-lagi dilewatkan begitu saja dan juga pelajaran-pelajaran lainnya absen, hingga Yasa yang diam-diam memperhatikannya jadi penasaran.
“Akhir-akhir ini, aku lihat kamu sering melamun sendiri di beranda belakang, An. Ada apa lagi? Kangen lagi sama orang tuamu di Bekasi itu?” tanya Yasa, begitu pulang dari salat Asar berjamaah di masjid dan mendapatkan Ana sedang termenung sendiri di beranda belakang pondoknya yang menghadap ke barat di mana danau dan pohon jamblang terlihat jelas.
Ana menghela napas panjang sejenak.
“Aku mulai tidak kerasan lagi tinggal di pesantren ini,” ucapnya, pelan tanpa menoleh.
Yasa kerutkan kening sedikit kaget.
“Kok, gitu? Katanya, kalau sudah hafal al-Qur’an kamu baru mau kembali ke Bekasi. Apa kamu sudah hafal?”
“Belumlah, Yasa. Tapi, ada sebab lain yang membuat hatiku tidak betah tinggal di sini.”
“Boleh aku tahu? Karena ada santri yang jahil itu, ya?"
Ana gelengkan kepala.