Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #1

BAB 1 Mesin Waktu

“Sudah kubilang, Guntur! Pribumi seperti kita tak pantas berhubungan dengan ras mereka!” Suara bentakan itu meledak di tengah kekacauan, menebas udara yang sudah penuh jeritan dan letupan kaca pecah. Bentakan Mansyur—pamannya—seolah menjadi percikan terakhir yang membakar sumbu kemarahan yang telah lama tersimpan di dada Guntur.

Imperial Mall Jakarta, yang siang tadi masih dipenuhi promo dan tawa anak-anak, kini menjelma menjadi neraka dunia. Api menjilat dari toko elektronik di sisi timur, mengepulkan asap hitam pekat. Jeritan histeris saling bersahutan di antara langkah tergesa para penjarah yang berlarian, menenteng televisi, lemari es, bahkan boneka-boneka besar yang kini kehilangan arti mainan.

Namun di tengah badai itu, satu drama kecil pecah—lebih sunyi, namun lebih mengguncang hati. Mansyur menarik lengan Guntur dengan kasar, berusaha melepaskan pelukan erat antara keponakannya dan seorang gadis bermata sipit berkulit cerah, yang kini menatap lelaki itu dengan mata berair penuh luka.

“Lepaskan dia, Guntur! Jangan nodai darah leluhur kita demi perempuan asing ini!” Kata “asing” itu terlempar begitu saja—seperti belati yang menusuk dada Meilisa. Ia mengepalkan tangan, menahan gejolak yang membakar dadanya seperti lahar mendidih. Suara ledakan di kejauhan tak mengalihkan fokusnya dari amarah yang menggelegak.

“Meskipun ras-ku berbeda, tapi aku lahir dan besar di negeri ini! Aku bagian dari tanah ini, sama seperti kalian!” serunya lantang. Suaranya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena terlalu lama bungkam. Terlalu lama menyimpan luka yang tak pernah sempat ia suarakan.

Air mata menumpuk di sudut matanya yang sipit, berkilat di bawah cahaya seperti hendak jatuh, tapi enggan menyerah. Meilisa tahu, jika satu tetes saja luruh, itu akan dianggap sebagai tanda kalah—dan ia belum siap untuk menyerah hari ini.

Mansyur menyeringai, mulutnya melengkung seperti busur dendam yang sudah terlatih sejak lama. “Bagi kami, kau dan seluruh keluargamu tetaplah pendatang. Sebaik apa pun kalian bertingkah, darahmu bukan darah kami. Kalian tak pantas menginjakkan kaki di sini.”

“Cukup!” teriak Guntur, menepis tangan pamannya. “Cukup, Paman! Cinta ini bukan tentang ras, bukan tentang silsilah. Ini tentang hati!”

Seketika, ruang seolah membeku. Di tengah kekacauan, waktu mendadak melambat. Jeritan mulai teredam, langkah kaki terdengar jauh, dan hanya degup jantung mereka yang terdengar paling keras.

Meilisa menatap Guntur. Matanya, yang masih mengembun, berubah sendu. Ia tahu, cinta mereka telah mencapai dinding yang mustahil ditembus. Tak peduli seberapa keras mereka melawan, dunia tak akan berhenti menolak.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Meilisa berbalik. Ia melangkah menjauh, menyisakan keheningan yang lebih menyakitkan dari teriakan mana pun.

“Meimei!” panggil Guntur, mencoba mengejarnya.

Namun langkahnya terhenti seketika. Sebuah ledakan menggema dari lantai atas—getarannya terasa sampai ke ubun-ubun. Langit-langit mall bergetar, lalu mulai runtuh perlahan. Asap hitam mengepul deras, menggelapkan langit-langit yang sudah remang. Api menjilat dari celah plafon, menyebar cepat seperti amarah yang kehilangan kendali.

Jeritan menggema lebih keras. Orang-orang berlarian tanpa arah, banyak yang terpeleset oleh pecahan kaca dan darah. Beberapa bahkan saling injak dalam panik. Kepanikan menyebar seperti api yang menemukan bensin.

Mansyur mematung. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar. Ia menatap Guntur dengan mata membelalak, lalu berseru dengan suara yang mengandung ketakutan sejati. “Kedua orang tuamu… mereka ada di lantai atas, Guntur!”

Guntur menoleh cepat. Matanya membesar. Lidahnya kelu. Lantai atas—tempat yang sekarang berubah menjadi ladang api—di sanalah orang tuanya tadi menghilang, menembus kerumunan tanpa menoleh lagi. Dan sekarang... Mereka ada di dalam sana.

Ia melangkah mundur, jatuh terduduk. Suara ledakan susulan menggema seperti palu kematian. Dunia berputar—jeritan berubah menjadi gema yang menjauh, lalu… gelap.

Air dingin menyentuh wajahnya.

Guntur tersentak setelah membenamkan wajah di wastafel. Napasnya masih menderu saat ia menatap pantulan dirinya di cermin. Tetesan air jatuh dari dagu, menciptakan riak tipis di atas permukaan air yang masih bergoyang.

Sekilas—ia melihat kobaran api.

Jeritan.

Wajah Meilisa.

Guntur terdiam. Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel.

“Itu… tadi…”

Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku kemeja, melihat waktu yang tertera di layarnya. 11 Januari 2026. Kemudian ia menoleh lagi ke arah cermin sambil menghela napas panjang.

Lihat selengkapnya