Guntur membuka pintu hologram perlahan. Cahaya lembut menyambutnya, lalu padam seketika saat ia melangkah keluar. Ruangan itu tampak seperti kamar biasa, namun sunyi dan asing.
Ia menoleh ke belakang. Pintu hologram telah meredup, seolah enggan mengungkap rahasia.
“Lift?” gumamnya ragu. Ia mencobanya lagi—tapi nihil. Tak ada tombol, tak ada suara. Hanya keheningan yang menyesakkan dada.
Ruangan ini jauh lebih terang dari sebelumnya. Lampu kuning menciptakan nuansa hangat yang remang. Sebuah kasur berselimut seprai krem, lemari kayu tua, dan jendela tanpa ventilasi—itu saja yang ada. Tak ada penunjuk arah. Tak ada kejelasan.
Ia membuka lemari perlahan. Hanya sebuah hoodie dan masker hitam. Sama persis seperti yang dikenakan pria misterius tadi.
“Jangan-jangan ini… rumahnya?” batinnya, menelan ludah.
Ia mendekati jendela, membuka daun kayunya dengan hati-hati. Dan di luar—terang benderang. Sinar mentari menari di sela pepohonan rindang.
Tidak mungkin.
Tadi langit sudah gelap. Ia bahkan susah melihat sekeliling. Tapi sekarang—siang?
“Dimensi lain?” gumamnya, kembali menatap pintu hologram.
Sementara itu, pesta pernikahan telah hampir usai. Namun Guntur tak kunjung kembali.
“Mana si Guntur? Pulang duluan?” tanya Alex, celingukan.
“Emang dia udah males gabung sama kita kali,” sahut Ferry, mencibir.
Juan mendesah, menoleh pada Ratna—istrinya—yang sibuk berbincang dengan istri para kolega.
“Dia iri, mungkin,” gumam Juan. “Kita semua udah mapan. Dulu dia paling pintar di sekolah, tapi malah begini.”
Alex dan Ferry terdiam, terpaku pada kenyataan yang baru saja dilontarkan Juan.
Kemudian, suasana mendadak berubah.
“Halo, Dokter Juan.”
Suara itu datang dari arah jalan setapak berkerikil, di antara pohon-pohon flamboyan yang bermekaran di pinggir taman. Sinar matahari sore menyorot samar melalui dedaunan, menciptakan pola cahaya di tanah berumput dan di kursi-kursi taman putih yang berjejer rapi.
Juan menoleh, lalu seketika membeku. Seorang pria tua berjalan perlahan ke arah mereka, bertongkat logam berujung perak yang menjejak tanah dengan bunyi lembut namun tegas. Ia mengenakan mantel camel yang membingkai tubuh jangkungnya, dengan jas putih dan dasi abu-abu pekat di dalamnya—terlihat kontras dengan suasana taman yang semarak oleh bunga dan tawa tamu pesta.
Tapi bukan itu yang membuat Juan tercekat. Wajah pria itu sangat khas—di mata kanannya, terpampang jelas luka vertikal seperti goresan pisau, membelah kulit dari atas alis hingga nyaris ke pipi. Luka itu, walau telah lama sembuh, tetap mencolok seperti tanda kutuk masa lalu. Sorot matanya tajam, sejuk namun tak ramah—penuh kendali, penuh misteri.
Juan spontan menyikut Alex dan Ferry yang berdiri di dekatnya.