Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #3

BAB 3 Pertemuan

Langit senja membentang dalam semburat jingga keemasan, membalut Jakarta dengan kilau nostalgia yang menyakitkan. Angin sore mengusik dedaunan di tepi trotoar, menari bersama bayangan panjang yang mengikuti langkah gontai Guntur. Di tangan kanannya, selembar koran yang mulai kusut tergenggam erat. Matanya terpaku pada tanggal kecil di pojok kanan atas halaman depan: 11 Januari 1998.

Ia berhenti melangkah.

Pupil matanya membesar, seolah tanggal itu menyeringai kepadanya—menyambutnya kembali pada luka yang belum sempat dijahit.

“Ini gila…” bisiknya, nyaris tanpa suara. “Aku benar-benar di sini.”

Sekelilingnya tetap berjalan seperti biasa, seakan dunia tak pernah tahu bahwa di tengah-tengahnya, ada seorang pria dari masa depan yang tersesat dalam waktu. Orang-orang melintas dengan wajah-wajah penuh rencana, tanpa sadar bahwa di antara mereka, ada seseorang yang ingin memperbaiki takdir yang pernah hancur.

Aroma bensin dari mikrolet yang melintas, gemerincing rantai sepeda, dan suara nyaring penjual es tebu—semuanya menyatu dalam orkestra kenangan yang mengguncang batinnya. Ia seakan menghirup kembali udara masa remajanya, namun dengan dada yang lebih sesak dan napas yang lebih berat.

Langkahnya membawanya ke depan sebuah warung kelontong kecil. Wajahnya perlahan berubah saat pandangannya jatuh pada papan nama tua di atas pintu. Deretan permen Yosan dalam toples kaca, sabun Cap Burung, dan botol-botol kaca berisi minuman bersoda seakan menertawakan keberadaannya yang terlempar dari dimensi lain.

Hatinya tergetar.

Warung itu masih hidup—masih seperti dalam memorinya sebelum semua berubah. Temboknya belum mengelupas. Tanaman hias milik ibunya tertata rapi di pot-pot kecil di samping rumah. Tanpa sadar, matanya mulai basah. Dunia yang telah lama mati di ingatannya kini berdiri nyata di hadapannya.

Ia bergerak perlahan ke sisi halaman, bersembunyi di balik pohon. Napasnya tercekat, langkahnya ragu, tetapi ada dorongan di dalam dada yang memaksanya terus mengintip dari sela dedaunan.

Di situlah, ia melihatnya.

Seorang remaja berseragam putih abu-abu, langkahnya ringan, menghampiri pagar rumah dengan wajah polos dan penuh semangat hidup. Wajah itu masih menyimpan pesona masa muda: manis, bersih, dengan kulit agak cokelat khas anak lapangan. Hidungnya tampak mancung dan tegas, seolah memahat karakter masa depan yang belum ia sadari. Rambutnya dipotong cepak seperti tentara, mempertegas kesan disiplin dan tangguh yang telah tumbuh sejak belia.

Guntur dewasa menelan ludah. Tubuhnya terasa lemas melihat versi lamanya—versi yang belum ternoda dendam dan kegagalan. Diri yang belum mengenal kehilangan. Diri yang belum merasakan kehancuran dan kematian. Diri yang masih percaya bahwa masa depan adalah tempat yang layak diperjuangkan.

Sementara kini, ia sendiri telah berubah jauh. Rambutnya gondrong dan mulai memutih, alisnya lebih tebal dengan kerutan yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya lebih keras, lebih kaku, seperti batu karang yang terus diterjang badai.

Hati Guntur hampir copot.

Itu... dirinya.

“Permisi,” suara pemuda itu memecah lamunan.

Guntur membeku.

“Pak, Bapak ada perlu apa berdiri di depan pagar rumah saya?” tanya remaja itu. Nada suaranya lembut, namun sarat kewaspadaan.

Guntur memandangnya seperti melihat hantu. Tatapan itu seperti menyaksikan kehidupan yang dicuri darinya bertahun-tahun lalu. Matanya turun perlahan ke dada kanan seragam itu.

Guntur Batara Kencana.

Mulutnya terbuka, tetapi kata-kata tertelan lumpur emosi. Dunia seketika menjadi terlalu sempit untuk menampung kenyataan.

“Pak?” ulang Guntur muda, kini dengan sedikit cemas.

Guntur tua tersentak. “Ah… maaf. Sepertinya saya… salah alamat.”

Lihat selengkapnya