Langkah kaki Guntur bergema di dalam lobi gedung V&R Holdings—struktur megah yang menjulang, seperti simbol kesuksesan di tengah Jakarta yang kelabu. Lantai marmer putih mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal dan bayangan mereka berdua. Di balik kaca jernih meja resepsionis, dua perempuan berseragam biru muda berdiri hormat saat Victor melintas. Pria itu hanya membalas dengan anggukan ringan, tatapan tetap lurus menatap lorong depan.
Kemudian, Victor membuka percakapan dengan tenang, seperti seseorang yang tahu bahwa waktu ada di pihaknya.
“Jadi, siapa namamu?”
Guntur terdiam sejenak. Nama itu—Guntur—bisa menjadi lubang kecil tempat kebenaran mengalir deras. Terlalu berisiko. Ia harus memilih sesuatu yang tak mencolok, tapi cukup personal agar tak terlupakan.
“Darma,” ujarnya akhirnya. “Nama saya Darma.”
Victor melirik sekilas. “Darma siapa?”
“Darma… Gunawan.”
“Nama yang sederhana,” gumam Victor sambil terus melangkah dan menatap kedepan. “Tapi dari tadi aku memperhatikan, caramu bicara, cara kamu mengamati… tidak seperti orang kebanyakan.”
Guntur mengatur napas. “Saya pernah bekerja sebagai sopir pribadi sebelumnya. Bos saya orang yang… suka banyak bicara. Saya hanya terbiasa mendengar.”
Victor terkekeh. “Dengar dan mencatat?”
“Kadang,” jawab Guntur datar.
Victor menekan tombol lift, dan suara mekanis dari atas terdengar pelan. Hening. Hanya bunyi halus kipas AC yang bergesekan dengan udara, dan detik dari jam digital di meja lobi.
Pintu lift terbuka dengan desis halus.
Mereka masuk. Victor menekan tombol bertanda B2—basement dua.
Di dalam lift, tubuh mereka terpantul samar di dinding logam. Guntur mencuri pandang pada bayangan dirinya—kemeja lusuh, rambut sedikit berantakan, dan sorot mata yang sudah terlalu lama berjaga. Di sebelahnya, berdiri Victor Rinaldy: bersih, rapi, dan penuh wibawa, seperti pria dari iklan korporat.
Tapi bagi Guntur, Victor bukan siapa-siapa. Belum.
Ia hanya mengenalnya sebagai ayah Meilisa, pengusaha sukses, dan… satu-satunya jalan untuk mendekat kembali pada takdir yang telah hilang.
Lift berhenti. Pintu terbuka.
Udara garasi menyambut dengan aroma aspal dan bensin. Lampu neon menggantung rendah, menerangi barisan mobil mewah tahun 90-an yang terparkir rapi: sebuah Mercedes-Benz E-Class W124 berwarna hitam mengilap, BMW E34 525i putih mutiara, Jaguar XJ40 klasik dengan grille krom menonjol, dan satu Toyota Land Cruiser FJ80 yang terlihat lebih kusam—barangkali milik sopir lama.
Victor melangkah lebih dulu, lalu menunjuk ke arah BMW hitam.