Sudah hampir satu minggu sejak Guntur resmi bekerja sebagai sopir pribadi Victor Rinaldy. Rasanya absurd, hampir seperti lelucon kosmik, bahwa ia—seorang pria yang lahir dari kehancuran sejarah—kini justru hidup di tengah-tengah masa sebelum semuanya berubah. Tahun 1998 menjelma seperti mimpi purba yang kembali hidup: udara lebih bersih, langit lebih biru, dan waktu berjalan lebih lambat. Dunia yang ia kenal, penuh notifikasi digital dan cengkeraman algoritma, kini lenyap ditelan kaset pita, radio analog, dan televisi tabung yang memancarkan cahaya remang kekuningan.
Penampilan Guntur pun berubah. Rambutnya kini dipotong pendek dengan gaya belah tengah ala curtain cut, tren yang sedang digemari anak muda masa itu—bersih, sederhana, tapi tetap mencuri perhatian. Ia terlihat sedikit lebih muda, seakan waktu pun ikut memundurkan dirinya. Namun di balik senyap mesin dan rutinitas antar-jemput Victor, Guntur menyimpan api rahasia. Setiap waktu istirahat, ia menyelinap keluar dari kompleks megah itu, berjalan kaki hingga ke kawasan perumahan sederhana di mana hatinya pernah tinggal. Di balik pohon mangga besar yang masih kokoh di seberang jalan, Guntur mengintai masa lalunya seperti seorang mata-mata yang dibakar oleh rindu dan luka.
Hari itu langit berwarna biru pucat, matahari bersinar lembut menimpa genting-genting rumah yang telah ia kenal seumur hidup. Di sana—dalam dunia kecil yang belum disentuh bencana—ia melihat ibunya tengah menyiram bunga dengan ember kuning, tersenyum kecil seolah tak pernah tahu bahwa takdir mengintainya dari ujung lorong waktu. Ayahnya duduk bersandar di kursi kayu di beranda, menyesap teh sambil membaca koran. Dan dirinya… Guntur yang berusia tujuh belas tahun baru saja turun dari sepeda, menyeka keringat di dahi, lalu menghampiri kedua orang tuanya dengan tawa polos yang kini terasa begitu jauh.
Air matanya nyaris jatuh. Tangannya menggenggam batang pohon mangga, menahan getar tubuh yang hampir roboh oleh gejolak emosi. Rasanya seperti mencuri kebahagiaan dari sebuah dunia yang tak lagi miliknya.
"Ya Tuhan… mereka masih hidup…"
Dalam diam, ia mencatat setiap detik dengan saksama. Setiap lintasan waktu, setiap suara tawa, menjadi petunjuk menuju hari kelam yang akan datang. Ia tahu, kerusuhan itu tak terelakkan. Namun tak pernah tahu: akankah ia bisa mencegahnya?
Pagi itu, udara Jakarta masih digelayuti embun dan sisa angin subuh. Guntur sedang memoles mobil hitam mewah milik Victor ketika suara majikannya memanggil.
“Darma,” ucap Victor singkat sambil merapikan jas Armani-nya. “Hari ini antar anakku untuk daftar sekolah. Dia harus bertemu kepala sekolah sebelum masuk minggu depan.”
“Siap, Pak. Sekolahnya di mana?” tanya Guntur seraya menunduk sopan.
“SMA Pelita Bangsa. Meimei sudah menunggu di dalam. Jangan telat.”
Meimei.
Nama itu menghantam benaknya seperti gelombang pasang. Sebuah nama yang tak pernah ia bayangkan akan terdengar lagi—setidaknya tidak dari mulut ayahnya Meimei sendiri.
Langkahnya sempat goyah. Napasnya tercekat. Tapi ia berusaha tetap tenang, menyembunyikan badai yang menderu dalam dadanya di balik senyum sopan. Ia berjalan masuk ke dalam rumah megah itu, setiap langkahnya seperti menghitung denyut jantung yang tak karuan.
Lalu ia melihatnya.
Meilisa berdiri di ambang pintu, mengenakan seragam putih abu-abu yang masih tampak baru, seperti kertas kosong yang belum disentuh tinta. Rambutnya dikuncir rapi ke belakang, wajahnya bersih dan polos, kulitnya bercahaya dalam cahaya pagi yang lembut. Gadis itu tersenyum—senyum yang pernah menyelamatkan dunia Guntur dari kegelapan. Senyum yang sama, yang pernah ia lihat di saat terakhir sebelum semuanya hancur.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Meilisa ceria. “Papi bilang, Pak Darma yang antar aku ke sekolah, ya?”