Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #6

BAB 6 Cinta Pertama

Pagi itu, suasana kelas tampak riuh oleh percakapan ringan dan tawa pelajar yang saling berbagi cerita menyambut hari baru. Murid-murid berdatangan secara bertahap, saling melempar sapaan dan senyum hangat. Mereka dengan sigap menyiapkan peralatan belajar di bangku masing-masing.

Di pojok belakang kelas, Juan tertawa lepas bersama Ferry dan Alex. Ketiganya membicarakan trik yo-yo yang sedang tren saat itu. Sementara Guntur, yang duduk menyendiri di sudut, tampak melamun sambil menatap ke luar jendela. Dalam benaknya, terus berputar tanya soal pria misterius yang menyelamatkannya dan Juan beberapa hari lalu.

"Siapa dia? Apakah dia yang menitipkan surat itu?" pikirnya.

Guntur teringat kembali akan kecelakaan lalu lintas itu. Ia dan Juan kehilangan kesadaran, hingga beberapa warga membopong mereka ke dalam mobil seorang pria asing dan membawanya ke UGD. Pria yang belum diketahui identitasnya, namun menyisakan secarik pesan misterius.

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka dan seluruh kelas langsung terdiam. Seorang gadis cantik melangkah masuk, ditemani Miss Leni, wali kelas mereka. Gadis itu mengenakan jepit rambut merah muda yang kontras dengan kulit putih bersihnya. Mata sipitnya mengisyaratkan bahwa ia memiliki darah Tionghoa, sama seperti Alex dan Ferry.

Guntur masih tenggelam dalam pikirannya, hingga Juan menyikutnya pelan.

"Aw!" rintih Guntur pelan, meringis karena sikutan itu mengenai bekas lukanya.

"Lihat deh ke depan," kata Juan, mengedikkan dagu.

Guntur mendesah kesal, tapi tetap mengikuti arah pandangan Juan. Ia melihat gadis itu berdiri malu-malu di depan kelas.

"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Semoga kalian bisa berteman baik dengannya, ya!" seru Miss Leni ceria.

Guntur tak terlalu tertarik, sampai akhirnya gadis itu memperkenalkan diri.

"Halo semuanya! Namaku Meilisa Rinaldy. Tapi kalian bisa panggil aku Meimei."

Mata Guntur membelalak. Nama itu menghantam memorinya.

"Meimei?" batinnya tak percaya.

Ia teringat kembali pada pesan dalam surat misterius yang ia terima di rumah sakit.

"Tolong selamatkan Meimei apa pun yang terjadi."

Saat itu ia sempat mengira surat itu salah alamat. Tapi kini, dengan hadirnya Meimei di kelas, semuanya terasa mulai masuk akal. Ia menatap gadis itu lekat-lekat.

Meimei, yang peka terhadap tatapan tajam, langsung menoleh ke arah Guntur. Pandangan mereka bertemu. Mata sipit Meimei memicing curiga.

"Siapa dia?" batinnya.

Wajah Guntur yang eksotis memang mencuri perhatian di antara dominasi murid Tionghoa. Meimei mengira pemuda itu mungkin menyukainya, karena terus memperhatikannya.

Jika saja Guntur tak menatap Meimei hari itu, akankah kisah ini tetap terjadi?

Dentang lonceng istirahat memecah suasana. Murid-murid buru-buru keluar kelas sambil tertawa dan mengobrol. Sebagian lainnya tetap di tempat, membuka bekal dan menikmati camilan.

Guntur, seperti biasa, tetap duduk di bangkunya. Ia tak pernah ke kantin karena harga makanan di sana cukup mahal. Juan, Alex, dan Ferry sering menawarinya makan gratis, tapi Guntur selalu menolak.

"Masakan ibuku jauh lebih enak," katanya.

Sementara itu, Meimei, yang berasal dari keluarga kaya, biasanya bisa membeli apa pun yang ia inginkan. Tapi hari ini, ada yang lebih menarik daripada makanan di kantin. Perhatian Meimei tertuju pada Guntur yang masih duduk menyendiri.

"Kamu yakin enggak mau ikut?" tanya salah satu temannya.

Meimei tersentak, lalu menjawab, "Iya, kalian duluan aja, nanti aku nyusul."

Gadis itu berjalan mendekati Guntur dan duduk di bangku depan, menghadap ke arahnya.

"Kamu bawa bekal?" tanyanya, berlagak santai.

Guntur mendongak, menatap Meimei. Alih-alih terpesona, ia justru kembali menunduk dan melanjutkan makannya. Meimei sedikit kesal.

"Tadi dia perhatiin aku terus. Kok sekarang cuek?"

Ia menelan ludah, tergoda aroma nasi goreng dari bekal Guntur.

"Kamu murid beasiswa, ya?" tanyanya lagi, kali ini tulus.

Guntur menghentikan suapannya dan menatap Meimei dengan ekspresi tak suka.

"Kenapa? Kelihatan miskin?"

Lihat selengkapnya