Bunyi bel istirahat menggema di seluruh penjuru sekolah. Suaranya khas, berdenting kering dari pengeras suara tua yang menggantung di sudut kelas. Para siswa berhamburan keluar, sepatu mereka berderap di lantai semen yang usang. Beberapa langsung menyerbu kantin, yang lebih mirip deretan meja kayu beratap seng, tempat gorengan dibungkus kertas cokelat dan es mambo dijajakan dalam termos besar. Tapi tidak dengan Guntur.
Seperti biasa, pemuda itu tetap duduk di bangkunya yang menghadap jendela. Ia membuka kotak makan sederhana berisi nasi, telur dadar, dan tumis kangkung. Radio tape milik wali kelas yang dibiarkan menyala kadang mengalun pelan di kejauhan, menyanyikan lagu-lagu Padi atau Dewa yang mendayu.
Juan dan Alex—dua sahabat dekatnya—sudah lebih dulu ke lapangan, katanya ada janji dengan kakak OSIS. Guntur tak terlalu peduli. Dunia kecilnya selalu cukup: buku, makanan sederhana, dan diam.
Dari barisan belakang, Meilisa memperhatikan. Diam-diam. Entah sejak kapan, pemandangan Guntur yang duduk sendiri sambil membaca mulai memikatnya dengan cara yang ganjil. Ia bahkan heran, bagaimana mungkin seseorang yang begitu pendiam bisa mengisi ruang pikirannya nyaris setiap hari?
Kenapa aku selalu ngelirik dia, sih?
Meilisa menyenderkan dagu di tangan, pura-pura memainkan pulpen. Di sekelilingnya, suasana kelas riuh oleh suara teman-temannya yang mengobrol sambil mendengarkan Walkman atau bertukar stiker di binder. Namun pikirannya justru terpaku pada satu sosok.
Apa dia beneran nggak tertarik ngobrol sama aku? Atau dia cuma pura-pura cuek?
“Meilisa, ke kantin enggak?” tanya temannya.
“Enggak ah. Lagi nggak pengin makan,” jawabnya cepat. “Lagi diet.”
Padahal jujur saja, dia bahkan lupa terakhir kali makan gorengan kantin. Yang ia pikirkan sekarang hanya satu: bagaimana caranya bicara dengan Guntur tanpa terlihat bodoh. Lebih tepatnya, bagaimana caranya agar Guntur tidak bersikap acuh lagi.
Guntur masih tenang, menyuap makanannya pelan. Sesekali, matanya melirik ke arah buku sejarah dunia yang terbuka di meja. Bukan gaya sok pintar—lebih seperti seseorang yang benar-benar menikmati waktunya sendiri.
Meilisa meneguk napas dalam-dalam. Lalu berdiri. Ia berjalan ke arah bangku Guntur, menggenggam pulpen seperti senjata. Jurus klasik: pura-pura meminjam penggaris.
“Guntur... pinjam penggaris dong,” ujarnya dengan nada seolah santai.
Pemuda itu tidak langsung menoleh. Hanya mengangkat alis tanpa senyum.
“Kemarin kamu pinjam pensil. Hari ini penggaris. Besok apa? Stiker Doraemon?” katanya datar.
Meilisa terkejut sejenak. Dia tahu aku suka Doraemon?
“Yah... kan artinya aku rajin belajar,” sahutnya dengan senyum manis yang dipaksakan. “Eh, kamu baca sejarah dunia ya? Aku suka banget Napoleon. Gila, dia tuh visioner banget!”
Guntur berhenti mengunyah. Matanya melirik Meilisa sekilas.