Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #8

BAB 8 Bayang-Bayang Kekuasaan

Mobil sedan hitam dengan kaca film gelap meluncur mulus menyusuri jalan protokol Jakarta yang masih basah oleh gerimis dini hari. Di balik kemudi, Guntur duduk tegak. Kemeja putih dan dasi abu-abu yang ia kenakan rapi, seolah menjadi perisai sopan dari dunia yang semakin liar di luar sana. Di kursi belakang, duduk pria berumur lima puluhan dengan jas kelabu yang elegan dan rambut yang selalu tersisir licin. Ia adalah Victor Adrian Rinaldy.

Tak ada suara selama sepuluh menit pertama. Hanya deru pelan mesin dan sesekali gesekan karet wiper yang menyapu kaca depan. Victor sibuk menatap map tebal berisi laporan. Guntur melirik ke kaca spion, memperhatikan bagaimana pria itu sesekali menghela napas panjang dan menatap keluar jendela dengan pandangan yang teramat dalam.

“Belok kanan ke Jalan Imam Bonjol, Tur,” perintah Victor pelan.

“Baik, Pak,” jawab Guntur singkat.

Namun, saat belok, tiba-tiba Victor mengeluarkan ponsel genggam besar seukuran batu bata dari dalam tas kulitnya—sebuah Ericsson GH197, salah satu dari sedikit ponsel analog mahal yang hanya dimiliki oleh pejabat dan konglomerat. Ia menekan beberapa tombol, menunggu sambungan, lalu berkata dengan nada yang sangat hati-hati:

“Operasi 'Langit Kelam' akan dimulai awal Mei. Pastikan aset-aset kita sudah dialihkan ke Singapura sebelum akhir April. Jangan tunggu sampai rupiah benar-benar ambruk.”

Guntur nyaris tak berkedip. Ia pura-pura fokus pada jalanan, tapi telinganya menangkap setiap kata.

Dari balik kaca spion, ia melihat Victor mencondongkan tubuh, berbicara lebih pelan namun tegas.

“Tak perlu tunggu tanda dari Presiden. Kita yang beri tanda pada mereka... Kau mengerti, kan? Biarkan ekonomi jungkir balik. Lalu kita masuk, seolah jadi penyelamat.”

Guntur menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat. Apa maksudnya itu? Menunggu ekonomi ambruk? Menjadi penyelamat?

Telepon ditutup. Victor kembali duduk dengan tenang, seperti tak terjadi apa-apa. Tapi dunia Guntur telah bergeser sedikit.

Sejak hari itu, Guntur mulai menyimpan rasa curiga. Ia bukan orang bodoh—meski tak pernah melanjutkan kuliah, semasa SMA ia selalu menjadi murid berprestasi. Nilai-nilainya gemilang, dan dulu ia sempat bercita-cita menjadi seorang hakim. Pengalaman hidup yang keras tak memadamkan nalarnya, justru menajamkan instingnya. Ia terbiasa menganalisis keadaan, peka terhadap kejanggalan, dan tak mudah percaya begitu saja.

Hari-hari berikutnya, ia mulai memperhatikan pola. Victor sering bertemu dengan tamu-tamu asing berjas mahal yang tak tercantum dalam agenda resmi. Pertemuan dilakukan di tempat-tempat tidak biasa: restoran tua di Kota Tua, ruang VIP bandara Halim, bahkan di balik bangunan terbengkalai yang sedang dikembangkan oleh perusahaannya. Dan setiap selesai dari pertemuan itu, nada bicaranya berubah. Matanya lebih tajam, langkahnya lebih cepat.

Suatu malam, saat mengantar Victor pulang ke rumah mewahnya di Menteng, Guntur memberanikan diri membuka percakapan.

“Bapak kelihatan capek akhir-akhir ini. Banyak proyek baru, ya?” tanyanya hati-hati, sambil tetap menatap ke depan.

Victor tak langsung menjawab. Ia menyalakan cerutu kecil dan menatap jendela. Asap mengepul pelan, lalu akhirnya ia berkata, “Guntur, dunia ini dibangun bukan oleh orang-orang baik. Tapi oleh orang-orang berani. Kadang… kita harus membakar ladang untuk bisa menanam yang baru.”

Lihat selengkapnya