Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #9

BAB 9 Di balik Pintu Rahasia

Langit Jakarta pagi itu mendung. Awan kelabu menggantung rendah seperti menyimpan rahasia besar yang belum terucapkan. Darma duduk di kursi pengemudi, mengenakan kemeja abu-abu dan rompi cokelat yang biasa ia kenakan setiap mengantar Victor. Namun, hari ini bukan sekadar hari antar-jemput biasa.

Selama bekerja sebagai sopir Victor Rinaldy, diam-diam Darma mulai menyimpan kecurigaan. Setiap hari, setiap telepon yang diangkat Victor dari dalam mobil, setiap percakapan dengan rekan bisnisnya yang terdengar setengah berbisik—semuanya mengandung sesuatu yang tak bisa dijelaskan.

“Ya, saya sudah bertemu dia. Orangnya bisa dipercaya. Tapi pastikan IMF tetap di pihak kita,” suara Victor terdengar pelan dari jok belakang.

Darma menajamkan telinga sambil berpura-pura fokus pada lalu lintas. Ia hafal benar suara-suara lirih itu, cara Victor menyebut nama-nama asing dengan logat khas: “Greenspan,” “Clinton,” “Rand Corporation,” dan—yang paling sering—“Moneter.”

Mata Darma menatap pantulan wajah Victor melalui spion tengah. Ada sesuatu di balik pembicaraan itu yang membuat bulu kuduknya merinding. Tapi belum cukup untuk menyimpulkan apa-apa.

Malam itu, Darma duduk sendirian di kamar kecil yang ia tempati di paviliun belakang rumah Victor. Lampu kuning temaram memantulkan cahaya muram di meja kayu lusuh yang kini dipenuhi tumpukan catatan kecil, sketsa, dan kabel. Di hadapannya, sebuah laptop tua tahun 90-an yang ia bongkar pasang dari koleksi barang-barang antik milik Victor di gudang.

“Kalau benar dia punya akses ke IMF dan bisa bikin krisis moneter, pasti dia punya jalur komunikasi tersembunyi,” gumamnya, mengetik cepat pada papan ketik usang.

Ketika garis hidup memaksa Guntur berhenti mengejar kursi pengadilan, ia tidak lantas membiarkan otaknya tumpul.

Alih-alih mengetuk palu di ruang sidang, Guntur sempat menghabiskan hari-harinya terpaku di depan monitor, berselancar di labirin internet yang gelap dan tak berujung. Ia menjinakkan baris-baris kode dan mempelajari seluk-beluk IT secara otodidak dengan ketekunan yang gila. Baginya, logika pemrograman tak jauh beda dengan pasal-pasal hukum; keduanya punya celah yang bisa dieksploitasi jika seseorang cukup jeli. Pengalaman hidup yang keras tidak memadamkan nalarnya, justru menajamkan instingnya hingga ia mampu menembus enkripsi dan meretas sistem yang paling rapat sekalipun. Di balik cahaya biru layar komputer, Guntur tetaplah sang ‘hakim’—hanya saja kini, ia menegakkan kebenarannya sendiri melalui jemari yang menari di atas keyboard.

“Yes! Berhasil!”

Saat ini Guntur berhasil meretas salah satu server lokal milik perusahaan Victor, V&R Holdings. Meski lambat dan penuh dengan antarmuka kuno berbasis teks, ia cukup mengenali protokol lawas yang digunakan. Darma memanfaatkan pengetahuannya dari masa depan tentang celah keamanan sistem NT dan perangkat lunak internal tahun 90-an.

Beberapa menit kemudian, sebuah jendela hitam terbuka. Deretan folder muncul satu per satu: Private-Comms, Offshore_Finance, Presidential_Correspondence, BLBI-Memo.

Jantung Darma berdegup kencang.

“Apa ini semua yang kusangka selama ini?” bisiknya dengan suara tertahan.

Klik. Ia membuka folder Private-Comms. Di dalamnya terdapat beberapa berkas teks berisi rekaman transkrip telepon—bukan hanya milik Victor, tetapi juga sejumlah tokoh penting dari luar negeri. Beberapa kalimat membuat darahnya membeku:

“Langkah pertama adalah menjatuhkan kurs rupiah. Tekan bank-bank lokal, bangun ketakutan. Investor akan menarik modal mereka. Biarkan panic selling bekerja untuk kita.”

— G.R., 4 Februari 1998

G.R. Darma yakin itu inisial untuk Gerald R. Harwood, salah satu penasihat ekonomi dari AS yang sempat menjadi pembicaraan di masa depan. Bagaimana bisa Victor memiliki komunikasi langsung dengannya?

Darma meraih buku catatannya dan mulai menyalin cepat.

Lihat selengkapnya