Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #10

BAB 10 Sekutu Dalam Bayang-Bayang

Langit Jakarta semakin muram ketika Guntur kembali mengantar Victor ke kantor pusat V&R Holdings. Gedung megah lima lantai bergaya art deco itu berdiri gagah di jantung ibu kota, dengan fasad batu marmer dan kaca patri besar di pintu lobi. Tapi bukan kemegahan itu yang kini memenuhi kepala Guntur.

Pikirannya hanya tertuju pada satu lokasi: lantai bawah tanah.

Ia sudah menyusun rencana sejak semalam. Mempelajari denah gedung dari berkas lama yang berhasil ia salin dari jaringan internal. Ada satu pintu akses yang tidak tercatat secara resmi: lorong sempit di balik ruang arsip lantai satu, yang hanya bisa dibuka dengan kartu akses tingkat tinggi.

Dan pagi ini, ia sudah mencuri satu kartu dari dalam jas Victor—secara diam-diam saat pria itu tertidur di kursi belakang mobil.

Pukul 12.30 siang. Jam istirahat kantor. Sebagian besar karyawan keluar untuk makan siang. Guntur menyelinap dari area parkir basement dua dan masuk lewat pintu belakang ruang maintenance. Ia mengenakan seragam petugas kebersihan yang ia ambil dari ruang laundry karyawan.

Langkahnya cepat tapi terukur. Keringat dingin membasahi pelipis meski ruang bawah tanah itu jauh lebih dingin dari permukaan.

Di balik lorong sempit dengan lampu kuning berkedip, ia menemukan pintu logam abu-abu tanpa nama. Hanya ada satu slot kecil tempat menempelkan kartu magnetik.

Guntur menghela napas dalam-dalam, menatap sekeliling memastikan tak ada CCTV aktif. Lalu ia tempelkan kartu.

Tit.

Lampu kecil menyala hijau. Pintu terbuka dengan bunyi mendesis pelan.

Di baliknya, terhampar lorong bawah tanah gelap—lebih mirip bunker militer daripada fasilitas perusahaan biasa. Dinding-dinding beton kasar, lampu neon pucat, dan aroma besi berkarat membuat jantung Guntur berpacu lebih cepat.

Langkahnya bergema di lorong panjang. Di ujung, ia menemukan ruangan berlapis baja. Pintu setebal brankas, tapi terbuka setengah.

Ia mendorongnya perlahan. Di dalamnya, bukan rak dokumen seperti yang ia duga.

Tapi sebuah ruangan penuh komputer dan layar tabung besar, berkedip dengan grafik dan angka-angka ekonomi dunia. Di tengah ruangan, sebuah proyektor 3D model memperlihatkan peta Asia Tenggara, dengan ikon-ikon kecil menunjukkan bank, jalur perdagangan, bahkan instalasi militer.

Guntur melangkah masuk seperti orang linglung.

"Ini bukan cuma ruang kerja... ini markas komando."

Ia mendekati salah satu layar. Ada video rekaman satelit yang menyorot pelabuhan Tanjung Priok, kawasan Sudirman, dan bahkan Istana Negara.

Di layar lain, surel-surel internal bertanda CONFIDENTIAL berkedip.

Ia membuka salah satunya:

"Sigma Echo akan dimulai 12 Mei 1998. Pastikan kekacauan sipil berlangsung minimal 3 hari untuk membuka jalan rekonstruksi. Kontrol media lokal dan instruksikan militer agar menahan intervensi selama 48 jam pertama."

* V.R.

"Sigma Echo... Kekacauan sipil? Ini... ini bukan cuma soal uang," bisik Guntur, ngeri.

Langkah tergesa terdengar dari lorong belakang.

Guntur segera menutup semua layar, menyelipkan beberapa kertas ke balik jaket, lalu berlari keluar.

Namun belum sempat ia mencapai tangga darurat, pintu lorong terbuka cepat—dua pria berbadan besar berpakaian hitam berdiri menghadangnya.

"Hei! Kamu bukan teknisi!" salah satunya berteriak.

Tanpa pikir panjang, Guntur berbalik, mengambil lorong sempit lain dan membelok ke ruang genset. Ia tahu dari peta, ada ventilasi besar di ruang itu—cukup untuk tubuh manusia meloloskan diri.

Dari belakang, langkah kaki menggelegar, suara sepatu menghantam lantai beton.

"Cepat, tangkap dia!"

Guntur melompat ke atas pipa, membuka penutup ventilasi dengan kunci kecil yang sudah ia siapkan.

Tepat ketika seorang pria menarik jaketnya dari bawah, Guntur merosot masuk ke dalam ventilasi dan menjatuhkan penutupnya kembali.

Ia merayap dalam gelap, tubuhnya terluka oleh baut-baut tajam dan debu karat. Tapi ia tak peduli. Ia berhasil keluar melalui ujung ventilasi yang mengarah ke tempat sampah di belakang gedung.

Guntur terbatuk keras, menghirup udara bebas dengan tubuh bergetar. Tapi senyumnya tipis.

Ia tahu sesuatu yang tidak seharusnya.

Malam harinya, Guntur duduk sendiri di kamarnya. Cahaya lampu redup membuat suasana semakin sunyi.

Di meja, ia meletakkan kertas yang ia ambil dari ruang rahasia. Judulnya tebal:

"Rencana Pemanfaatan Krisis Asia Tenggara: 1998 - 2002"

Ia baru membuka halaman pertama saat terdengar ketukan pelan di jendela.

Lihat selengkapnya