Pagi itu, Washington D.C. diselimuti embun musim semi yang sejuk, sementara langit membentang biru jernih. Di antara barisan kendaraan diplomatik yang berhenti di depan Gedung Putih, sebuah mobil hitam elegan melaju perlahan. Dari dalamnya, Victor dan istrinya melangkah turun dengan penuh percaya diri. Setelan jas Victor yang rapi, serta aura tenang namun dominan, membuat setiap petugas keamanan mengangguk hormat saat mereka lewat.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa pria itu bukan hanya seorang taipan Asia, tapi juga sekutu dekat Presiden Amerika Serikat. Jejaknya di California melalui Bank Wave Crest telah membangun jembatan tak kasatmata antara kepentingan ekonomi Timur dan Barat. Bahkan, istri sang Presiden sendiri—seorang pengacara ternama—pernah menjadi penasihat hukum bank tersebut. Kini, hubungan mereka tak lagi sekadar bisnis, tapi telah merambah ranah politik global.
Hari ini, Victor diundang secara pribadi oleh Presiden. Sebuah pertemuan tertutup, menyusul laporan intelijen tentang rencana besar yang hendak dilancarkannya di Asia Tenggara—sebuah skema untuk mengguncang tatanan kekuasaan yang telah bertahan puluhan tahun.
Di dalam ruang pertemuan khusus yang luas dan sunyi, pintu besar terbuka. Presiden Amerika menyambut Victor dengan senyum ramah dan jabatan tangan hangat.
"Selamat datang, Victor. Aku sudah menantikan momen ini," katanya dalam bahasa Inggris yang fasih.
"Terima kasih atas kehormatannya, Mr. President. Saya merasa sangat terhormat berada di sini," balas Victor sambil memberi anggukan hormat.
Setelah duduk, percakapan segera mengarah pada inti persoalan.
"Aku dengar, kau punya pandangan unik soal krisis moneter global," ujar sang Presiden, menyesap teh hangat dari cangkir porselen berlogo negara. "Apa yang kau lihat dari semua ini?"
Victor mengusap dagunya sejenak, lalu menjawab dengan tenang.
“Dunia sedang berada di ambang ketidakstabilan. Krisis demi krisis terjadi tanpa solusi struktural yang jelas. Jika dibiarkan, keruntuhan besar tinggal menunggu waktu. Tapi di balik setiap kekacauan, ada peluang untuk perubahan.”
Presiden menyipitkan mata, menangkap sinyal bahwa yang sedang dibicarakan bukan sekadar teori ekonomi.
“Jadi… ini bukan sekadar analisis. Ini tentang aksi?” tanyanya, suaranya menurun satu oktaf.
Victor mengangguk. “Saya ingin menggulingkan rezim di negara saya. Tapi saya takkan menggunakan senjata atau kudeta. Saya akan menggunakan sesuatu yang lebih mematikan: krisis buatan.”
Sang Presiden menyandarkan punggung ke kursi, ekspresi wajahnya berubah antara kagum dan waspada.
“Rekayasa krisis? Penjelasanmu mulai menarik.”