Setelah perjuangan panjang selama tiga bulan, akhirnya Meilisa berhasil menaklukkan hati Guntur. Segala usaha, perhatian, dan ketekunan yang ia curahkan demi mengejar cinta pria itu, akhirnya berbuah manis. Kini, mereka resmi berpacaran. Hubungan mereka seakan menjadi bukti nyata bahwa cinta yang diperjuangkan tak akan sia-sia—asal ada keyakinan dan ketulusan yang tak pernah padam.
“Lihat tuh, si Guntur!” seru Alex, mengedikkan dagu ke arah kantin dengan ekspresi heran.
Alex, Juan, dan Ferry duduk di meja makan, hanya sekitar lima meter dari tempat Guntur dan Meilisa. Ketiganya memperhatikan sepasang kekasih itu yang tengah asyik suap-suapan tanpa peduli sekitar.
“Dulu gengsi banget, sekarang malah lengket kayak perangko,” celetuk Ferry dengan nada setengah menyindir.
Juan menyipitkan mata, lalu terkekeh pelan. “Biarkan saja. Namanya juga orang lagi jatuh cinta. Dunia ini kayak cuma milik berdua, yang lain cuma ngontrak.”
Setelah meneguk minumannya, Juan menambahkan, “Dan jujur saja, siapa sih yang bisa menolak Meimei? Mau sekuat apa pertahanan si Guntur, pasti runtuh juga pada akhirnya.”
Alex dan Ferry hanya mengangguk, tak bisa membantah. Ucapan Juan memang ada benarnya. Tapi perhatian mereka masih tak lepas dari meja di seberang.
Guntur tampak santai menyuapkan potongan ayam ke mulut Meilisa, lalu tiba-tiba mengusap bibir gadis itu dengan ibu jarinya.
“Cih! Cih! Cih! Makannya jangan kayak bocah, dong!” tegur Guntur sambil geleng-geleng kepala, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.
Meilisa hanya tertawa lebar, hingga kedua matanya yang sipit tenggelam nyaris tak terlihat. Senyum itu... akan selalu terpatri di ingatan Guntur. Senyum yang kelak tak lagi bisa ia lihat setelah bulan ini berlalu.
Kalau saja dia tahu, bulan ini adalah yang terakhir...
Perkenalan yang Berujung Pahit
Sepulang sekolah, Guntur mengajak Meilisa main ke rumah. Ia ingin memperkenalkannya kepada keluarga—bukti bahwa hubungannya bukan main-main. Meilisa jelas antusias. Baginya, bisa mengenal orang tua Guntur adalah kebanggaan tersendiri. Itu berarti keseriusan.
Namun, segala ekspektasi mereka runtuh dalam sekejap.
Begitu melewati ambang pintu, mereka langsung disambut suara tinggi Mansyur, paman Guntur, yang tengah bicara penuh emosi kepada kedua orang tua Guntur—Malik dan Marni.
“Bajingan memang si Victor Rinaldy itu! Semua tanahku dirampas dengan licik!” teriak Mansyur. Kumis tebalnya ikut bergetar, menambah kesan mengintimidasi.
Meilisa terperangah. Guntur menegang.
“Maksud Paman apa?” tanya Guntur lantang. Ia tak bisa menahan keterkejutannya.
Kehadiran Guntur sontak membuat ketiganya terdiam. Apalagi ada seorang gadis asing berdiri di sebelahnya. Marni cepat-cepat berdiri, mencoba mencairkan suasana.