Dua tahun lalu, tepatnya pada tanggal 22 Juli 1996, sebuah Rolls Royce hitam mengilap berhenti di depan rumah sederhana milik Mansyur. Di balik kemudi, Pak Udin—sopir pribadi Victor—turun dengan cekatan dan membukakan pintu dengan penuh hormat.
“Silakan, Pak Mansyur. Bos sudah tak sabar ingin bertemu,” ujarnya ramah.
Sepanjang perjalanan, Pak Udin tak henti-hentinya mengagungkan majikannya. Dari kepiawaiannya dalam bisnis, hingga kemurahan hatinya yang menurut sang sopir, "jarang ditemui di zaman sekarang."
Mobil mulai memasuki kawasan Liberty Grup. Pak Udin menunjuk gedung-gedung tinggi yang menjulang megah, hasil karya Victor.
“Itu apartemen yang ludes terjual dalam seminggu. Yang sana, pusat perbelanjaan terbesar di kota. Semua ide Pak Victor,” katanya dengan bangga.
Begitu memasuki kompleks hunian elite, aura kemewahan semakin terasa. Pak Udin menyebut satu per satu nama tokoh penting yang tinggal di sana. Namun perhatian Mansyur tersita oleh satu gerbang megah yang dijaga ketat oleh satpam berseragam militer. Di sanalah mobil berhenti.
Victor belum tiba, jadi Pak Udin mempersilakan Mansyur menikmati jamuan di taman belakang. Hidangan mewah disajikan, lengkap dengan teh dan kopi pilihan. Sementara Pak Udin tetap setia menemani, terus menebar pujian untuk sang bos.
Lalu, langit bergemuruh oleh baling-baling helikopter yang berputar cepat. Dari kejauhan, sebuah helikopter mewah perlahan mendarat di halaman rumah. Pintu terbuka, dan Victor turun dengan langkah percaya diri. Jas biru gelapnya berkibar tertiup angin rotor, tampak seperti tokoh utama dalam film spionase.
Victor menghampiri Mansyur dengan senyum hangat.
“Apa kabar, Pak Mansyur?” sapa Victor, menjulurkan tangan.
“Baik, Pak Victor. Terima kasih sudah mengundang saya. Ini suatu kehormatan,” jawab Mansyur sedikit kikuk.
Setelah Pak Udin pamit meninggalkan mereka, Victor duduk di bangku taman, lalu membuka percakapan.
“Pak Mansyur, saya dengar tanah Anda di daerah Selatan. Luasnya fantastis. Tapi… sayang sekali kalau hanya dijual begitu saja,” katanya sambil mengaduk kopinya.
Mansyur mengangguk pelan. “Saya sudah tak sanggup urus. Biaya perawatan tinggi, istri saya juga sedang sakit. Saya pikir... lebih baik dinikmati saja hasilnya.”