Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #14

BAB 14 Mengungkap Tabir

Malam menggantung sunyi di langit Jakarta. Tak ada suara selain detak jam dinding yang terus berdetak seperti gema waktu yang tak kenal lelah. Darma terbangun tiba-tiba. Tenggorokannya terasa kering, seperti padang pasir yang telah lama tak tersentuh hujan.

Ia melirik ke arah jam dinding. Tepat tengah malam.

“Duh, haus banget,” gumamnya parau, suaranya nyaris tak terdengar di antara hening.

Dengan tangan yang masih berat oleh kantuk, Darma meraba ke sekeliling mencari botol minum yang biasa ia letakkan di dekat tempat tidur. Tapi nihil. Botol itu kosong, hanya menyisakan rasa kecewa yang membuat dahaganya semakin menusuk.

Ia bangkit perlahan, menyambar botol itu, lalu melangkah menuju dapur. Lorong rumah gelap, hanya disinari cahaya temaram dari lampu malam yang menggantung muram di langit-langit. Suara langkahnya memantul lembut di ubin, terdengar seperti bisikan hantu yang menguntit.

Namun langkahnya terhenti mendadak.

Di kejauhan, dari ujung lorong menuju ruang pribadi Victor, tampak sosok asing sedang berjalan tertatih ditemani salah satu ajudan. Sosok itu mengenakan pakaian serba hitam, wajahnya tertutup bayangan, dan tongkat kayu di tangannya menghentakkan irama ganjil di lantai marmer.

“Siapa itu? Tengah malam begini?” batin Darma, merapatkan tubuh ke dinding.

Pikirannya berputar cepat. Tak mungkin Victor menerima tamu di jam seaneh ini. Selama ia tinggal di rumah ini, tamu selalu datang sebelum sore. Tidak pernah lewat petang. Apalagi pria ini tampak seperti—bukan orang sembarangan.

Darma mencoba mengabaikannya. Ia tetap ke dapur, mengisi air, lalu meminumnya. Tapi rasa dingin dari air tak mampu mendinginkan kegelisahan di dadanya. Pikirannya tertambat pada satu kemungkinan—apakah ini berkaitan dengan kabar miring tentang Victor yang sering didengarnya dari sang paman? Atau sesuatu yang berkaitan dengan proyek sigma echo?

"Aku harus mencari tahu!" pikir Darma. Sebuah bayangan kelam melintas dalam benaknya.

Ia memutuskan untuk mengikuti rasa penasarannya. Langkahnya kembali menyusuri lorong yang kini terasa lebih sempit dan menyesakkan. Sampai tiba-tiba, cahaya remang terlihat mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka—ruang kerja Victor.

Jantung Darma berdetak lebih cepat. Napasnya memburu, tetapi rasa ingin tahunya jauh lebih kuat daripada rasa takut.

Ia mendekat perlahan. Setiap langkah seperti menambah berat di kakinya. Ketika sampai di depan pintu, ia menunduk, mengintip dari lubang kecil.

Di dalam, Victor berdiri membelakangi jendela besar. Di hadapannya, pria berpakaian hitam itu kini terlihat lebih jelas—kulitnya pucat, rambutnya mulai memutih di sisi pelipis, dan sorot matanya tajam meski sebagian tertutup bayangan.

Darma menahan napas ketika suara Victor terdengar lirih namun tegas.

“Aku sudah membuat rekayasa krisis moneter sesuai perintahmu. Jika kerusuhan itu benar terjadi, Presiden akan mengundurkan diri dari jabatannya.”

Lihat selengkapnya