Sudah tiga hari Meilisa menjauh, bersikap seolah Guntur tak lebih dari angin lalu. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum, bahkan sekadar tatap pun enggan. Bangku yang biasanya mereka tempati bersama saat jam istirahat kini kosong di sebelah Guntur. Bekal makan siang yang dulu dibagi berdua kini hanya disentuh separuh. Hening menggantikan tawa. Dingin menggantikan hangat.
Berkali-kali Guntur mencoba mendekat, namun Meilisa selalu menjauh. Ia seperti berubah menjadi gadis asing yang tak lagi mengenal Guntur. Semua bermula dari insiden hari itu—saat Guntur ingin mengenalkan Meilisa ke keluarga, namun berakhir dengan cacian dan penolakan dari Mansyur, pamannya sendiri.
“Dia anak Victor!” bentak Mansyur kala itu, matanya merah membara. “Lelaki brengsek yang menghancurkan hidupku! Apa kamu sudah gila, Guntur?!”
Meilisa yang mendengar itu tak sanggup berkata-kata. Sakit hati tak terucap. Harga dirinya diinjak, bukan karena kesalahannya sendiri, melainkan karena darah yang mengalir di tubuhnya. Saat Guntur mengejarnya sore itu, Meilisa tak bicara sepatah kata pun. Sejak itu, dunia di antara mereka seolah membeku.
“Sebenarnya kalian kenapa sih?” tanya Juan dengan dahi mengernyit, melihat Guntur termenung di bawah pohon akasia belakang sekolah.
Guntur hanya menghela napas panjang. Matanya terus terpaku ke arah Meilisa yang sedang tertawa kecil bersama teman-temannya di bawah tangga musala. Pemandangan itu membuat dadanya terasa sesak, seperti ditusuk jarum halus berkali-kali.
Akhirnya, dengan berat hati, Guntur menceritakan semuanya pada Juan. Tentang rencana mempertemukan Meilisa dengan keluarganya. Tentang bagaimana rencana itu berubah menjadi luka yang masih hangat. Dan tentang penolakan yang bukan hanya menyakitkan Meilisa, tapi juga membuat Guntur merasa hancur.
“Kalau begitu, lo harus ngobrol empat mata sama Meimei!” saran Juan sambil menepuk bahu sahabatnya.
“Mau ngobrol bagaimana? Dideketin aja dia udah kayak ngelihat musuh,” keluh Guntur.
“Mungkin dia enggak enak kalau ngobrol di sekolah. Ramai.”
“Jadi menurut lo, gue harus bagaimana?”
Juan menatap langit sejenak, lalu mengangkat alisnya sambil tersenyum licik. “Ajak dia ke tempat yang sepi dan romantis.”
“Hah? Buat apa?” Guntur mengernyit.
“Ya buat ngobrol lah. Biar enggak diganggu siapa-siapa. Kalau Cuma lo dan dia, bisa lebih terbuka.”
Seketika Guntur menyipitkan mata, berpikir. Saran Juan terdengar masuk akal. Tapi bagaimana caranya membawa Meilisa ke sana kalau bahkan untuk menatap matanya saja ia tak diberi kesempatan?
“Tenang,” kata Juan penuh percaya diri. “Gue punya rencana.”
Pantai Senja
Sore itu, Meilisa duduk di kursi belakang mobil dengan wajah murung. Langit Jakarta berwarna jingga tembaga, menumpahkan cahaya senja ke seluruh penjuru jalanan. Tapi tak ada keindahan dalam matanya. Yang ada hanya kabut luka yang tak kunjung reda.
Benaknya kembali disambar kenangan tiga hari lalu.
Suara teriakan, sorot mata kebencian Mansyur, dan perasaan ditolak yang menampar harga dirinya berkali-kali. Ia bukan siapa-siapa, hanya seorang gadis yang ingin dicintai apa adanya. Tapi dunia ternyata belum cukup luas untuk menampung cinta mereka.
Meilisa menggertakkan gigi. “Kalau memang harus berakhir, kenapa rasanya seperti ini?”