Juan melangkah mendekati mobil Meilisa dan mengetuk kaca jendela. Ia memutuskan bergabung dengan Darma alias Guntur dewasa—daripada terus merasa seperti pengganggu di momen yang seharusnya milik dua sejoli itu. Melihat Juan yang terus mengetuk, Guntur pun menurunkan kaca mobil dan menyapanya.
"Ada apa?" tanyanya.
Juan tersenyum lebar, deretan giginya terlihat rapi dan bersih. "Boleh ikut duduk di dalam? Daripada bengong sendirian di luar."
Tanpa berkata banyak, Guntur langsung membuka pintu dan memberi isyarat agar Juan masuk.
"Yuk, kita cari makan dulu. Kau pasti lapar, kan?" katanya, menyarankan agar mereka memberi ruang pada dirinya yang lebih muda, yang kini sedang tenggelam dalam momen penting.
Sementara itu, Guntur muda memandangi Meilisa dengan tatapan penuh harap. Ia baru saja menyematkan cincin kecil di jari manis kekasihnya.
"Kamu mau maafin aku?" bisiknya lirih.
Meilisa tak perlu berpikir lama. Tatapan Guntur yang tulus menembus hatinya, dan tanpa bisa ditahan, air mata mulai jatuh dari pelupuk matanya. Ia mengangguk pelan, lalu menunduk.
"Maafin juga karena udah ngejauh dari kamu selama ini," ucapnya terbata, di sela isaknya.
Guntur tersenyum tipis. Ia menangkup wajah Meilisa, lalu menghapus lembut air matanya dengan ibu jarinya.
"Sst...," bisiknya, menenangkan. "Kamu nggak perlu minta maaf. Aku udah maafin kamu, dan akan terus memaafkan, bahkan kalau suatu saat kamu buat kesalahan lagi."
Meilisa tak mampu berkata apa-apa lagi. Ia memeluk Guntur erat-erat. Udara pantai yang asin menyelinap ke paru-parunya, terasa seperti pelukan alam yang ikut menyelimuti kebahagiaan mereka.
"Aku nggak pernah nyangka bisa ada di sini, bareng kamu," bisik Guntur di telinganya.
Meilisa melepas pelukan dan menatap wajah Guntur yang hanya beberapa inci dari wajahnya. "Aku juga nggak nyangka. Tapi kamu... kamu bikin semua rasa sakit yang pernah ada, jadi terasa pantas."
Mereka terdiam, hanyut dalam momen yang tak perlu dijelaskan. Hanya suara angin dan desiran ombak yang menemani.
Tak jauh dari sana, seorang pengamen memainkan gitar akustik, mengalunkan lagu cinta yang lembut. Melodinya menari bersama angin, menyempurnakan suasana.
Guntur menggenggam tangan Meilisa. "Mau dansa?" tanyanya pelan.
Meilisa mengangguk. Mereka melangkah ke tengah hamparan pasir, berdansa pelan mengikuti irama. Senja yang meredup memberi jalan pada bintang pertama di langit malam.
Tak ada kata-kata, hanya gerakan perlahan, senyum kecil, dan tatapan yang berbicara lebih dari seribu kalimat.
Setelahnya, mereka berjalan menyusuri pantai, membiarkan pasir menyapa telapak kaki, dan ombak kecil menyentuh jemari. Di ujung pantai, sebuah botol tergeletak, setengah tertimbun pasir.
"Eh, itu apa?" tanya Meilisa sambil menunduk dan memungutnya.
Di dalam botol, tampak secarik kertas yang tergulung. Meilisa membuka tutup botol dan mengeluarkannya bersama Guntur.