Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #17

BAB 17 Manis dan Gerimis

Langit menggantung abu-abu sejak pagi, seolah menyimpan sesuatu yang tak bisa diucapkan. Hujan belum turun, tapi aroma tanah basah sudah memenuhi udara. Suasana di SMA Pelita Bangsa siang itu lengang, kelas-kelas telah bubar sejak dua jam lalu karena guru rapat mendadak. Namun dua murid belum juga pulang—masih bertahan di ruang kelas XI IPA 2 yang kosong.

Guntur duduk di meja belakang, membungkuk sedikit sambil mencoret-coret halaman belakang bukunya. Bukan catatan pelajaran. Hanya garis-garis tak beraturan, nama Meilisa yang ia tulis berulang kali, kadang diselingi gambar bintang kecil. Di hadapannya, Meilisa duduk bersila di atas kursi, tubuhnya sedikit membungkuk ke depan, rambut panjangnya menjuntai menutupi sebagian wajah.

“Aku masih nggak ngerti,” gumam Meilisa sambil menunjuk rumus fisika yang tertulis di bukunya. “Ini percepatan, atau ini justru gaya dorong?”

Guntur tertawa pelan. “Itu bukan percepatan, itu cinta. Dorongannya konstan, arahnya ke kamu terus.”

Meilisa menoleh cepat, menahan tawa. “Apaan sih. Gombal melulu.”

“Bukan gombal. Itu teori Einstein. Kamu pusat gravitasiku,” kata Guntur, kali ini serius. “Sejak aku kenal kamu, aku berhenti mengorbit ke mana-mana.”

Meilisa menutup bukunya, pura-pura sebal. Tapi matanya jernih, berbinar. “Kalau aku pusat gravitasi, artinya kamu bakal nabrak dan hancur dong?”

Guntur menatapnya. Lama. “Kalau sama kamu, aku rela meledak.”

Sunyi sejenak di antara mereka. Hanya suara jam dinding yang berdetak malas. Meilisa mengerjapkan mata, menatap ke jendela. “Kayaknya hujan mau turun.”

“Biarkan saja. Kita tungguin sampai reda, ya?”

“Ya,” jawab Meilisa pelan.

Mereka sering begini. Menunggu hujan. Bukan karena tidak punya kendaraan. Mobil keluarga Meilisa selalu siap menjemput kapan pun. Tapi karena hujan selalu menyimpan sesuatu. Aroma. Suasana. Percakapan yang tak bisa terucap di cuaca cerah. Hujan mengaburkan dunia luar, dan membuat ruang sempit seperti kelas ini menjadi satu-satunya dunia yang ada.

“Kamu masih suka nulis puisi?” tanya Meilisa, tiba-tiba.

Guntur mengangguk. “Kadang.”

“Kapan terakhir?”

“Kemarin.”

“Boleh aku baca?”

“Enggak,” jawab Guntur cepat. “Masih jelek. Nanti kalau udah bagus banget baru aku kasih kamu.”

Meilisa tertawa kecil. “Aku nggak nuntut bagus. Aku Cuma pengin tahu isi kepala kamu.”

“Kamu udah tahu semuanya.”

“Belum. Aku belum tahu isi hatimu pas pertama kali suka sama aku.”

“Kamu enggak perlu tahu kapan pertama kali, Mei! Yang perlu kamu tahu, aku selalu suka sama kamu berkali-kali.”

“Idih, gombal terus!”

Alih-alih salah tingkah, Meilisa langsung melayangkan tatapan sinis sambil mengangkat ujung sebelah bibirnya.

Lihat selengkapnya