Jika Aku Kembali ke 1998

Ade Gita Giani
Chapter #18

BAB 18 Aliansi Dalam Bayang-Bayang

Malam menggantung berat di langit Jakarta, seolah ikut menyimpan rahasia yang hendak segera diungkap. Di lantai dua sebuah bangunan tua tak berplakat, di sudut kawasan Menteng yang mulai sunyi karena ketegangan kota, hanya satu jendela yang menyala remang, diselubungi tirai tebal berwarna gelap.

Di dalamnya, dua orang sibuk bekerja di hadapan meja kayu reyot yang penuh kabel, kertas, dan peralatan elektronik. Suara kipas pendingin dari komputer tabung mengisi keheningan ruangan, berbaur dengan suara gerimis yang mengetuk pelan kaca jendela. Sebuah monitor CRT menampilkan teks berwarna hijau kehitaman. Di sebelahnya, CPU besar berderu pelan, membaca isi flash disk yang ditinggalkan seseorang: Darma.

Karina berdiri di samping Julio, matanya awas menatap layar. Di tangannya tergenggam beberapa lembar kertas hasil cetakan—rekam jejak data yang baru saja didekripsi. Sementara Julio, dengan tangan cekatan, mengetik perintah demi perintah melalui keyboard model lama yang sudah mulai menguning dimakan usia.

“Strukturnya agak acak, tapi... sebagian file-nya bisa dibuka,” gumam Julio dengan nada ragu. “Darma nyaris tak meninggalkan konteks. Cuma folder utama ini—‘Dominus_98’—yang tampaknya sengaja ditata.”

Karina mengangguk pelan. “Kita lihat saja sejauh mana ini bisa membawa kita. Fokus ke semua yang menyebut ‘Sigma’.”

Julio mengklik folder itu. Layar segera dipenuhi daftar dokumen teks, grafik, serta beberapa file video dengan ekstensi kuno. Sebagian besar diberi nama kode: ALPHA_FOODS, KOMANDO_MAY, dan SIGMA_ECHO_OPERATIONS. Tapi tidak semuanya bisa dibuka. Beberapa file rusak, sebagian terenkripsi, dan lainnya terpotong.

Julio menarik napas. “Ini... bukti yang belum lengkap. Ada celah di mana-mana. Tapi potongan-potongan ini cukup untuk menimbulkan pertanyaan besar.”

Dia menggeser mouse dan membuka salah satu file video yang berhasil terbaca.

Klik. Layar menampilkan gambar buram dari sebuah rekaman dalam resolusi rendah. Suara berdesis, lalu muncul siluet seorang pria berdasi berdiri di depan layar proyektor: Victor Rinaldy. Ia berbicara kepada beberapa pria berjas gelap yang wajahnya tak terlihat jelas.

“...tujuan utama proyek Sigma Echo adalah menciptakan ketidakstabilan persepsi kolektif. Kita gunakan transmisi suara frekuensi rendah, dikombinasikan dengan informasi terbatas dan kelangkaan logistik di daerah urban. Ketika massa panik, kontrol menjadi lebih mudah…”

Karina mengernyit. “Gila... tapi ini cuma potongan. Tidak ada penjelasan lokasi, tidak ada waktu. Bisa saja ini sengaja direkayasa.”

Julio bergumam. “Tapi dikaitkan dengan grafik ini... ada kecocokan. Distribusi beras, gula, minyak—semuanya turun tajam sejak awal April. Ada pola. Dan file-file ini, meskipun sepotong-sepotong, menunjukkan skema sistematis.”

Ia mengangkat selembar grafik yang dicetak Darma: jalur distribusi bahan pokok diubah arah, stok ditumpuk di beberapa gudang besar yang tak tersentuh pasar umum. Disertai memo internal bertanda inisial ‘VR’.

“Ini belum cukup buat pengadilan,” ucap Karina. “Tapi cukup buat membakar kesadaran publik.”

Lihat selengkapnya