Sinar mentari pagi menelusup lembut di antara tirai tipis jendela kamar Meilisa, menciptakan lukisan cahaya yang menari-nari di dinding. Semilir angin yang sejuk menyusup dari sela kisi-kisi jendela, membawa aroma embun dan daun basah. Di bawah selimut bergambar Hello Kitty, Meilisa perlahan mengerjapkan mata. Matanya yang masih menyimpan sisa kantuk kini menatap langit-langit kamar, menyadari bahwa hari ini adalah hari yang istimewa.
“Ulang tahunku…” gumamnya pelan, senyum kecil merekah di bibirnya. Di sudut kamar, balon-balon warna pastel bergelantungan dengan manis, sementara pita-pita dan ucapan ‘Happy Birthday’ menghiasi dinding dengan semangat ceria.
Tak lama, pintu kamarnya terbuka pelan. Ranti, kepala pembantu yang setia, masuk dengan langkah senyap, seolah membawa secercah kehangatan dari masa lalu yang tak pernah Meilisa rasakan langsung. Di tangannya, nampan berisi sarapan lengkap dan sebuah kue mungil yang dihiasi krim stroberi serta lilin angka 18 di atasnya. Bagi Meilisa, Ranti adalah pelabuhan yang tak pernah berubah, tempat kasih sayang Ibu terwujud dalam setiap sentuhan dan tatapan.
“Selamat ulang tahun, Non,” ucap Ranti lembut, suaranya mengalir seperti melodi pengantar tidur, lalu mengecup kening putri majikannya—putri yang ia jaga sejak denyut jantung pertamanya hadir di dunia ini—dengan kasih sayang yang tulus.
Meilisa tersenyum, matanya sedikit berkaca. “Terima kasih, Bi…”
Setelah meniup lilin dan menyantap sarapan, Meilisa berkata lirih, “Bi… soal acara malam ini… aku tidak ikut membantu, ya.”
Ranti menoleh, menaruh gelas jus di meja. “Tumben? Memangnya kenapa, Non?”
Meilisa menggigit bibir. “Aku janji ke rumah Juan. Katanya sih kumpul kecil-kecilan. Tidak ramai kok.”
Ranti menatap putri majikannya, sejenak terdiam. Lalu mengangguk pelan. “Asal Non tidak sendirian ke sana.”
“Tenang saja, Bi. Pak Darma yang mengantarkan. Aman.”
Ranti mengangguk, meski sorot matanya menunjukkan ada kekhawatiran yang ia simpan dalam diam, kekhawatiran seorang penjaga yang menganggap setiap inci jiwa itu sebagai miliknya.
Perjalanan Ulang Tahun
Mobil hitam berhenti di depan rumah keluarga Victor. Darma turun dari kemudi, mengenakan kemeja biru gelap yang rapi, rambut disisir ke belakang, dan wajahnya penuh kendali. Ia memencet bel kecil, dan beberapa menit kemudian, Meilisa muncul dengan gaun putih selutut dan sepatu krem yang senada. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, dihiasi pita putih kecil yang mempermanis penampilannya.
“Siap, Non?” sapa Darma sambil membukakan pintu mobil.
Meilisa mengangguk manis. “Yuk, Pak Darma.”
Namun, sebelum mereka sempat masuk ke mobil, pintu depan terbuka, memperlihatkan sosok Victor yang berdiri di ambang pintu dengan setelan jas abu-abu dan tatapan tajam.
“Mau ke mana, Nak?” tanyanya datar.
Meilisa hampir refleks menjawab, “Ke rumah Juan. Ada kumpul kecil saja, Pih.”
Victor menatap Darma. “Kamu yang antar?”
Darma membungkuk sedikit. “Iya, Pak. Saya pastikan dia selamat sampai pulang.”
Victor hanya menatapnya lama, seakan membaca isi hatinya. Tapi kemudian ia melangkah pergi tanpa berkata sepatah kata pun lagi.
Meilisa menatap kepergian ayahnya dengan kerutan bingung di dahi. “Aneh banget… biasanya dia menyuruh kamu ikut dia.”
Darma tersenyum tipis. “Mungkin hari ini Papi lagi baik hati.”
Meilisa terkekeh kecil dan masuk ke dalam mobil. Yang tak ia tahu, Darma sengaja memohon pada Victor untuk mengizinkannya mengantar Meilisa—dengan dalih mengawasi langsung anak semata wayangnya di hari penuh risiko. Padahal, di balik permintaan itu, Darma telah merancang sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesampainya di rumah Juan yang terletak di kawasan lebih sederhana dari istana keluarga Victor, rupanya sudah disiapkan hiasan pita warna pastel dan lampu-lampu kecil yang menggantung di halaman. Mobil yang dikendarai Darma pun berhenti di depan pagar. Meilisa turun dengan senyum cerah, tak menyangka persiapan yang begitu manis akan menyambutnya.
Ketika pagar dibuka, ledakan konfeti dan suara teriakan menggema dari halaman depan.
“Surpriseeee!!!”
Meilisa terkejut, matanya membelalak melihat Juan, Julio, Karina, dan… Guntur—yang kini mengenakan kaus putih polos dan kemeja biru—berdiri sambil membawa kue ulang tahun dengan lilin menyala.
Dia tertawa, lalu menutup mulutnya karena tak menyangka. “Gila… kalian niat banget!”
“Harus dong! Ini ulang tahun Ratu Kelas kita,” ujar Juan dengan gaya sok pangeran.