Beberapa jam sebelumnya, angin pagi menyusup pelan ke sela-sela jendela, mengusir sisa dingin malam yang masih menggantung di udara. Semilirnya membawa aroma dedaunan basah dan bunga liar dari halaman depan. Kicau burung-burung kecil menambah syahdu suasana rumah tua yang tenang itu. Namun, kedamaian pagi mendadak terusik oleh langkah kaki Guntur yang berlarian ke sana ke mari.
Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar. Ia mengenakan kemeja terbaiknya, rambut disisir rapi. Hari ini bukan hari biasa—ini adalah ulang tahun Meilisa. Dan dia ingin segalanya sempurna.
Langkahnya membawanya ke dapur, tempat aroma singkong goreng dan teh hangat menyambutnya. Marni, ibunya, tengah sibuk di depan kompor. Ia menoleh cepat, keningnya mengernyit melihat Guntur yang terburu-buru.
“Mau ke mana pagi-pagi begini? Tumben heboh banget.”
Guntur tersenyum canggung. Aroma teh dan singkong memang menggoda, tapi pikirannya sudah terbang ke Meilisa.
“Aku ada janji sama Juan, Bu,” jawabnya cepat, menyelipkan kebohongan kecil.
Marni menatap curiga, tetapi belum sempat bicara, Malik sudah lebih dulu bersuara dari meja makan. Lelaki berpeci itu tengah membaca koran, sarung melilit pinggangnya.
“Rumah Juan… atau rumah Juan?” tanyanya tajam, penuh penekanan.
“Rumah Juan beneran, Pak!” sahut Guntur sambil tergelak gugup. Ia menenggak segelas teh, mencoba menenangkan diri.
Malik melipat koran, menatap putranya dalam-dalam. “Dengarkan baik-baik, Guntur. Jangan pernah kau dekati lagi anak si Victor. Kita bukan hanya tidak mau berurusan dengan orang jahat, tapi juga ingin menjaga warisan kita. Jangan campur aduk semuanya.”
Marni hanya mengulum senyum melihat wejangan suaminya yang khas. Guntur, di sisi lain, sudah nyaris jengah.
“Iya, iya…” gumamnya, malas berdebat.
Marni menaruh sepiring singkong goreng di meja, lalu duduk di sebelah Malik. “Sarapan dulu, ya, biar kuat!”
Guntur melirik jam dinding. 08.55.
“Tidak usah, Bu. Aku makan di rumah Juan saja.”
Setelah mencium tangan mereka berdua, Guntur berbalik hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu. Ia menatap kedua orang tuanya dengan sorot serius.
“Bapak, Ibu… jangan pergi ke mal hari ini, ya. Aku punya firasat buruk.”
Keduanya saling berpandangan. Dahi Malik berkerut.
“Firasat? Maksudmu apa?”
“Juan bilang… dia dengar dari ayahnya, akan ada kerusuhan di mal hari ini. Pesaing mal itu mau bikin kacau. Jadi, lebih baik jangan ke sana.”
Marni terkekeh kecil, seolah menepis kecemasan anaknya. “Ah, kamu ini. Kami baik-baik saja, kok.”
Ia menyikut lengan suaminya, alisnya naik turun.
“Iya kan, Pak?”
Malik terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Iya… kita tidak akan ke mana-mana.”
Guntur menghela napas lega, lalu benar-benar pergi. Tapi kepergiannya tak lepas dari pantauan Marni. Diam-diam, ia mengintip dari balik gorden.
“Dia sudah pergi?”
Melihat Guntur naik ke motor Juan, Marni cepat-cepat menghampiri suaminya. Wajahnya cemas.