Jam dinding di ruang OSIS menunjukkan pukul empat sore ketika pintu ruangan terbuka cukup keras hingga membentur tembok.
Brak.
Aku mengangkat kepala pelan dari tumpukan proposal di meja. Seorang perempuan berdiri di ambang pintu sambil terengah sedikit, rambut panjangnya berantakan karena angin, sementara satu map biru hampir jatuh dari pelukannya.
“Maaf telat!”
Ruangan yang tadinya hening langsung ramai.
“Buset, Van. Rapat udah mau selesai.”
“Tumben gak pake drama dulu.”
“Ada mukanya ketua OSIS, tuh, hati-hati.”
Aku tetap diam. Perempuan itu mengikuti arah tatapan teman-temannya lalu menoleh ke arahku. Dan untuk pertama kalinya, kami saling bertatapan. Matanya bulat. Wajahnya manis dengan ekspresi yang terlalu hidup. Seragamnya sedikit berantakan, dasi longgar, dan ada bekas tinta hitam di jemarinya. Dia terlihat seperti tipe orang yang sulit diam.
Perempuan itu menatapku beberapa detik, lalu mendekat sambil menyodorkan map biru tadi.
“Ini proposal class meeting yang kemarin direvisi.”
Aku menerimanya tanpa banyak ekspresi.
“Kamu telat tiga puluh menit.”
“Dua puluh delapan,” jawabnya cepat. “Tadi saya sempet lari.”
Beberapa anak OSIS langsung menahan tawa.
Aku menatapnya datar. “Alasan tetap alasan.”
“Ya udah maaf.” Jawabannya ringan. Terlalu ringan malah. Seolah dimarahi bukan sesuatu yang perlu dipikirkan serius.
Aku membuka proposal itu sekilas lalu kembali berbicara tanpa menatapnya.
“Besok diperbaiki lagi bagian sponsor.”
“Hah?”
“Anggarannya gak sinkron.”
“Yang bener?”
“Kamu bikin sendiri, kan?”
“Niat banget dicek.”