Jika Besok Kamu Tidak Ada

capa
Chapter #3

#3 Flirting Katanya

Sejak ucapan absurd Vania sore itu, hidupku resmi tidak damai. Bukan karena aku memikirkan kalimatnya. 

…oke, mungkin sedikit. 

Tapi lebih karena sejak hari itu dia jadi makin menjadi-jadi. 

“Pagi, calon imam.” 

“Gam, kalau gue masuk surga kira-kira ketemu lo gak?” 

“Ketua, jangan ganteng-ganteng di koridor napa? Konsentrasi belajar gue rusak.” 

Dan sialnya, dia mengatakan semua itu dengan muka polos. Sementara teman-teman di sekitar kami sudah hampir guling-guling menahan tawa. 

“Van,” tegurku suatu pagi di kantin. “Jaga omongan.” 

Dia yang sedang makan batagor langsung menatapku. 

“Loh, emang salah?” 

“Lo ngomong sembarangan.” 

“Aku cuma apresiasi ciptaan Tuhan.” 

Aku mengusap wajah kasar. Pusing. 

Arga yang duduk di sampingku bahkan sudah ngakak tanpa dosa. 

“Gam, demi apa, muka lo merah.” 

“Diem.” 

ANJIR SALTING.” 

“Arga.” 

“Oke, siap.” 

Vania malah tertawa makin keras sampai hampir keselek saus kacang. 

Aku menatapnya datar, tapi dalam hati mulai sadar satu hal: perempuan ini memang datang ke hidup orang lain hanya untuk bikin ribut. 

 

Hari itu sekolah lebih ramai dari biasanya karena latihan gabungan untuk pensi dimulai. Lapangan basket dipenuhi suara sepatu dan peluit, aula dipakai latihan band, sementara koridor sekolah penuh anak-anak yang membawa properti. 

Aku baru selesai latihan basket ketika seseorang melempar handuk ke wajahku. 

“WOI.” 

Terdengar suara tawa familiar. Vania. Dia berdiri di pinggir lapangan memakai jersey basket sekolah, rambutnya diikat tinggi sambil memegang bola. 

“Keringetan banget, Ketua.” 

Aku menarik handuk dari wajahku. 

“Lo ngapain di sini?” 

“Latihan, lah.” 

Dia memantulkan bola basket sekali lalu menunjuk lapangan. 

“Lawan gue.” 

Aku mengernyit. 

Lihat selengkapnya