Sejak hari itu, hidupku mulai tidak tenang. Bukan karena masalah sekolah. Bukan karena rapat OSIS. Bukan juga karena pertandingan basket yang tinggal dua minggu lagi. Tapi karena satu orang bernama Vania itu tiba-tiba muncul di hampir seluruh bagian hariku.
“Pagi, Ketuaaa.”
“Gam, titip absen.”
“Gam, pinjem pulpen.”
“Gam, menurut lo, gue cocok jadi artis gak?”
Dan yang paling menyebalkan, dia selalu bicara seolah kami sudah kenal bertahun-tahun. Padahal baru seminggu.
“Lo capek gak, sih, ngomong terus?” tanyaku suatu siang saat rapat dekor acara sekolah.
Vania yang sedang duduk di atas meja langsung menoleh.
“Enggak.”
“Hebat.”
“Iya dong.”
Aku kembali fokus ke laptop. Sementara di sekeliling kami, anak-anak OSIS sibuk membuat properti untuk acara pensi bulan depan. Musik dari speaker kelas terdengar pelan, bercampur suara gunting dan obrolan random. Suasananya ramai. Dan entah kenapa, Vania selalu jadi pusat keramaian itu.
“Eh, serius, deh,” katanya tiba-tiba. “Lo kalau senyum, tuh, bakal lumayan.”
Aku menatapnya datar. “Makasih.”
“Tapi sayang, lo kayak kulkas dua pintu.”
Beberapa anak langsung ngakak.
Aku menggeleng kecil sambil menutup laptop.
“Vania.”
“Hm?”
“Bantu tempel banner daripada ngomong.”
Dia memberi hormat asal.
“Siap, Komandan.”
Sore harinya hujan turun deras. Gedung sekolah mulai sepi karena sebagian besar siswa sudah pulang lebih dulu. Aku masih berada di aula untuk memastikan dekor tidak ada yang rusak terkena bocor atap. Saat sedang membereskan kabel sound system, suara langkah kaki terdengar mendekat.
“Belom pulang?” tanya suara perempuan yang jelas kukenali.
Aku menoleh. Ternyata Vania yang sudah berdiri di belakangku sambil membawa payung lipat dan kantong plastik.
“Lo juga.”
Dia berjalan mendekat lalu duduk di kursi depan panggung. “Mager pulang.”
“Kenapa?”
“Rumah gue ngebosenin.” Jawabannya terlalu cepat. Terlalu santai. Tapi matanya tidak.
Aku diam beberapa detik sebelum kembali menggulung kabel.
“Orang tua lo belum pulang?”
“Papa di Surabaya. Mama meeting.”
“Hm.”
“Respons lo irit banget, ya.”
“Emang harus panjang?”