Hari pensi akhirnya datang. Sejak pukul enam pagi sekolah sudah berubah kacau. Banner belum naik. Kabel sound system sempat error. Anak dance panik karena penata make-up mereka belum sampai, padahal acara malam. Dan ruang OSIS resmi berubah jadi markas perang.
“Astagaaa mic satu mana?!”
“Yang jaga stand makanan siapa?!”
“WOI LIST PENAMPILAN ILANG!”
Aku berdiri di tengah koridor sambil memegang HT dan map rundown yang bahkan belum sempat kubaca ulang.
“Tenang dulu,” kataku mencoba mengatur semuanya. “Panitia inti ke aula sekarang.”
“Iya, Gam!”
Suara langkah kaki memenuhi koridor. Dan di antara semua keributan itu—tentu saja ada satu orang yang paling ribut.
“GAMAAAA!”
Aku memejam mata sebentar. Tau itu siapa tanpa perlu menoleh.
Vania berlari ke arahku sambil membawa clipboard dan dua tali ID card yang entah milik siapa. Rambutnya diikat asal, beberapa helai berantakan menempel di pipi karena keringat. Kaos panitia kebesaran yang dia pakai juga sudah penuh bekas spidol. Berantakan. Tapi anehnya tetap kelihatan cantik.
“Kenapa?” tanyaku.
“Band pembuka ngilang.”
“Apa?”
“Katanya drummer-nya sakit perut.”
Aku menarik napas panjang.
“Tolong cari backup.”
“Udah.”
Aku mengernyit. “Cepet juga.”
Dia menyeringai bangga.
“Sie acara terbaik emang beda.”
Belum sempat aku menjawab, seseorang memanggil dari aula.
“Gama! Vendor lighting dateng!”
“Oke, bentar.”
Aku berjalan cepat menuju aula, sementara Vania mengekor di sampingku sambil terus ngoceh tentang rundown yang berubah total. Biasanya aku akan merasa pusing mendengar orang bicara tanpa henti seperti itu. Tapi sekarang, suara Vania justru jadi hal paling familiar di tengah semua kekacauan ini.
Menjelang sore, pensi akhirnya dimulai. Lampu aula dimatikan. Sorak-sorai siswa memenuhi ruangan. Musik pembuka menggema keras sampai terasa ke dada. Aku berdiri di belakang panggung sambil memperhatikan semuanya dengan tangan terlipat. Capek. Tapi lega. Acara yang kami urus hampir tiga bulan akhirnya berjalan juga.
“Ketua.”
Aku menoleh. Vania berdiri di sampingku sambil menyerahkan air mineral dingin.
“Minum dulu.”
“Makasih.”
Dia ikut melihat ke arah panggung, tempat penampilan dance sebagai pembuka acara sedang berlangsung heboh. Lampu warna-warni memantul di wajahnya. Membuat matanya terlihat lebih hidup dari biasanya.
“Keren, ya,” gumamnya pelan.
“Hm.”
“Dulu gue kira acara sekolah, tuh, gampang.”