Jika Besok Kamu Tidak Ada

capa
Chapter #6

Doa Yang Berbeda

Setelah pensi selesai, semuanya berubah jadi terasa… aneh. Aku dan Vania mulai terlalu sering bersama. Awalnya hanya karena urusan evaluasi acara. Lalu merembet jadi makan bareng. Belajar bareng. Latihan basket bareng. Bahkan kadang pulang sekolah pun bersama. Dan lucunya, semua itu terjadi begitu saja tanpa direncanakan. 

“Gam, temenin gue ke koperasi.” 

“Gam, pinjem catatan.” 

“Gam, ikut gue bentar.” 

Dan bodohnya, hampir selalu kuturuti. 

Anak-anak OSIS bahkan mulai lelah menggoda kami. 

Anjay pasangan pensi lewat.” 

“Sie acara sama ketua inti emang beda.” 

“Kalau nikah undang satu sekolah, ya.” 

Biasanya aku akan langsung membantah. Sekarang? Aku cuma malas menanggapi. Karena entah kenapa, berada di dekat Vania mulai terasa senyaman itu. Dia tetap cerewet. Tetap tengil. Tetap suka bicara sembarangan. Tapi sekarang aku mulai terbiasa. Terbiasa mencari sosoknya di sekolah. Terbiasa mendengar suaranya di antara keramaian. Terbiasa menoleh setiap kali namaku dipanggil olehnya. Dan mungkin… itu awal masalahnya. 

Hari Jumat siang, ruang OSIS kembali ramai. Anak-anak masih membicarakan kesuksesan pensi semalam sambil sesekali memperlihatkan video penampilan di ponsel masing-masing. 

“Gam traktir, WOI.” 

“Iya, nih, ketua pelaksana banyak duit.” 

“Minimal bakso, lah.” 

Aku yang sedang duduk di meja langsung menghela napas kecil. 

“Ya udah.” 

Satu ruangan langsung heboh. 

“SERIUS?” 

Lihat selengkapnya