Jam ketiga seharusnya pelajaran Ekonomi. Seharusnya. Karena lima menit sebelum guru masuk, kabar menyenangkan sekaligus membosankan datang. Guru tidak hadir. Satu kelas langsung bersorak seperti baru memenangkan undian miliaran rupiah.
“WOOOIII JAM KOSONG!”
“FUTSAL, YUK!”
“KE KANTIN!”
“TIDURRR!”
Aku hanya menyandarkan punggung ke kursi. Entah kenapa hari itu aku sedang tidak ingin ikut keramaian siapa pun. Setelah beberapa menit mendengarkan teman-teman ribut sendiri, akhirnya aku mengambil satu buku dari tas lalu berjalan keluar kelas. Tujuanku sederhana. Perpustakaan. Tempat paling tenang di sekolah.
Suasana perpustakaan jauh lebih sepi dibanding koridor yang penuh siswa berkeliaran. AC yang dingin, suara halaman buku yang dibalik pelan, dan aroma khas kertas membuat tempat itu terasa menenangkan. Aku mengambil tempat di dekat jendela. Membuka buku yang sebenarnya sudah pernah kubaca dua kali. Namun baru beberapa halaman, terdengar suara kursi ditarik dari hadapanku. Aku mengangkat kepala. Lalu menghela napas panjang.
“Ngapain?”
Vania tersenyum lebar. “Ngadem.”
“Di perpustakaan?”
“Iya.”
Aku menggeleng kecil.
Perempuan itu langsung menjatuhkan diri ke kursi seberangku.
Hari itu dia mengenakan seragam yang sedikit kusut, rambutnya diikat asal, dan wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya.
“Jam kosong juga?” tanyaku.
Dia mengangguk.
“Guru Matematika rapat. Lo sendiri?”
“Baca buku.”
Vania langsung melihat sampul buku di tanganku.
“Buset.”
“Apa?”
“Jam kosong malah baca.”
“Terus?”
“Lo serem, ya.”
Aku kembali fokus pada bukuku. Sementara Vania menyandarkan dagu di meja sambil memperhatikanku.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lima belas menit.
Sampai akhirnya aku menutup buku perlahan.
“Kenapa?”
“Hah?”
“Liatin saya terus.”