Ruang OSIS kembali ramai. Setelah pensi selesai, agenda sekolah berikutnya sudah menunggu di depan mata. Lomba Bulan Bahasa. Salah satu program kerja terbesar yang selalu diadakan setiap tahun. Dan seperti biasa, semua pengurus OSIS berkumpul untuk rapat perdana.
Aku berdiri di depan whiteboard sambil memegang spidol. Di sebelahku ada Arga yang sejak tadi sibuk membagikan lembar konsep acara. Sementara di hadapan kami, hampir seluruh pengurus OSIS sudah duduk di tempat masing-masing. Mutiara selaku Ketua Seksi Bidang Pembinaan Sastra dan Budaya atau Sekbid 8 duduk di barisan depan bersama Lauren, Fatah, Malika, dan Tasya yang menjadi inti pelaksana kegiatan. Sedangkan Vania... Duduk paling belakang. Dan entah kenapa selalu berhasil menarik perhatian meski tidak melakukan apa-apa. Atau setidaknya itu yang kupikirkan sampai lima menit kemudian.
“Baik,” kataku membuka rapat. “Untuk Bulan Bahasa tahun ini kita perlu konsep yang lebih menarik dibanding tahun sebelumnya.”
Semua mulai memperhatikan.
“Silakan Mutiara menjelaskan rancangan awal.”
Mutiara berdiri lalu maju ke depan. Sebagai ketua divisi, ia memang selalu terlihat siap.
“Untuk sementara ada beberapa lomba yang akan kita adakan. Puisi, pidato, baca berita, dan debat.”
Anak-anak mulai mengangguk. Lauren mencatat beberapa poin tambahan. Fatah sesekali memberi masukan mengenai teknis pelaksanaan. Semuanya berjalan normal. Sampai suara Vania terdengar dari belakang.
“Tambah lomba gombal aja gak, sih?”
Ruangan langsung ramai. Aku memejam mata. Tidak kaget. Benar-benar tidak kaget.
“Vania,” tegurku.
“Apa?”
“Kita rapat.”
“Iya, makanya gue kasih ide.”
“Lomba gombal?”
“Biar generasi muda makin kreatif.”
Arga langsung tertawa. “Sebenernya gue penasaran, sih.”
“Kan?” Vania menunjuk Arga bangga.
Aku menggeleng kecil lalu kembali fokus ke pembahasan.
“Lanjut, Mutiara.”
Rapat berlangsung hampir satu jam. Berbagai ide mulai muncul. Tema acara. Konsep dekorasi. Juri. Teknis pendaftaran. Whiteboard di depan sudah hampir penuh tulisan. Sementara sebagian besar pengurus mulai terlihat kelelahan. Kecuali Vania. Perempuan itu masih punya energi seperti baterai baru.
“Menurut gue dekorasinya jangan terlalu formal.”
“Kenapa?”
“Bulan Bahasa, tuh, identik sama karya.”
Lauren mengangguk. “Masuk akal.”
“Bikin kayak galeri sastra gitu.”
Mutiara mulai mencatat.
“Sebelah aula bisa dipasang kutipan puisi.”
“Nah, itu.”
Aku memperhatikan sebentar. Dan harus kuakui, kalau sudah serius, ide-ide Vania sering kali bagus. Meski cara penyampaiannya kadang membuat orang ingin mengelus dada.
“Terus lomba pidato temanya apa?” tanya Tasya.
“Persahabatan,” jawab seseorang.
“Bosen.”
“Keluarga?”
“Biasa.”
Diskusi kembali berjalan.
Sampai tiba-tiba Vania mengangkat tangan.
“Cinta.”
Ruangan mendadak ramai.
“WOOO.”
“Mulai lagi.”
“Ini pengalaman pribadi, ya?”
Vania langsung melempar penghapus ke arah mereka.
“Sembarangan!”