Blurb
JIKA ESOK KAU TIADA
*Special Story of Andrizal Ramadan*
Novel By : Ismawati
*Bagaimana jika seseorang yang hari ini menjadi rumah, esok hanya bisa kita temui dalam doa dan kenangan?*
Aku pernah menjadi perempuan paling bahagia ketika Allah mempertemukanku dengan seorang lelaki yang akhirnya kupanggil suami.
Namanya Ramad.
Awalnya, kami hanyalah dua orang asing yang dipertemukan oleh sebuah panggilan video sederhana. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa lelaki yang dahulu hanya kulihat melalui layar telepon itu kelak akan menjadi teman hidupku, seseorang yang akan berbagi rumah, cerita, dan masa depan bersamaku.
Perjalanan kami tidak selalu indah.
Ada pertengkaran, perbedaan, air mata, dan ujian yang datang silih berganti. Kami pernah tidur beralaskan sederhana di tempat kerjanya, saling menemani di tengah kesibukan, belajar memahami kebiasaan masing-masing, dan membangun rumah tangga dengan segala keterbatasan yang kami miliki.
Ia bukan lelaki sempurna, begitu pula aku.
Namun, aku mencintainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Aku mencintai caranya bekerja keras, perhatiannya terhadap hal-hal kecil, tegurannya ketika aku lalai beribadah, dan kebiasaannya mengingatkanku untuk menjaga diri. Bagiku, kebahagiaan bukan hanya tentang memiliki seseorang untuk pulang, tetapi juga tentang menemukan seseorang yang ingin berjalan bersamaku menuju kebaikan.
Bersamanya, aku belajar menjadi seorang istri.
Bersamanya, aku belajar bahwa cinta bukan hanya tentang tawa dan kebahagiaan, melainkan juga tentang kesabaran, pengorbanan, dan kesediaan untuk tetap bertahan ketika keadaan tidak mudah.
Aku pernah berpikir bahwa kami masih memiliki banyak waktu.
Masih banyak tempat yang ingin kami kunjungi. Masih banyak cerita yang ingin kami tulis. Masih banyak pagi yang ingin kusambut bersamanya dan masih banyak malam yang ingin kulewati dengan mendengar suaranya.
Aku mengira esok akan selalu menjadi milik kami.
Sampai akhirnya, kehidupan mengajarkanku bahwa tidak semua janji waktu bisa kita genggam.
Ada perpisahan yang datang tanpa pernah kita siapkan. Ada kehilangan yang mengubah seluruh kehidupan dalam sekejap. Dan ada seseorang yang begitu kita cintai, tetapi akhirnya hanya bisa kita peluk melalui ingatan dan kita sebut namanya dalam doa.
Kini, aku menuliskan kisah kami.
Bukan karena aku ingin membuat dunia memahami seluruh rasa sakitku, melainkan karena aku ingin mengabadikan bahwa kami pernah ada. Bahwa pernah ada seorang lelaki bernama Ramad yang begitu kucintai. Bahwa pernah ada rumah tangga yang kami perjuangkan dengan segala kekurangan kami.
Dan bahwa di antara semua yang telah berlalu, cintaku tidak pernah menjadi sesuatu yang sia-sia.
Sebab bagiku, kehilangan tidak membuat semua kenangan menghilang.
Ia hanya mengajarkanku bahwa terkadang, seseorang bisa pergi dari dunia kita, tetapi tetap tinggal di bagian terdalam hati kita.
Jika esok kau tiada, apakah aku akan siap kehilanganmu?
Dahulu, aku tidak pernah benar-benar tahu jawabannya.
Sekarang, ketika aku harus belajar menjalani hari tanpamu, aku mulai memahami betapa berharganya setiap detik yang pernah kita miliki.
Dan jika waktu bisa kuulang, aku ingin kembali ke hari-hari sederhana itu.
Ke tempat kita memulai semuanya.
Ke suara yang memanggilku sayang.
Ke rumah kecil yang pernah kita bangun bersama.
Ke masa ketika aku masih bisa melihatmu, menyentuhmu, dan mengatakan secara langsung betapa aku mencintaimu.
Namun, waktu tidak pernah berjalan mundur.
Maka, biarlah tulisan ini menjadi tempatku menyimpanmu.
Sebuah kisah tentang aku, kamu, dan cinta yang pernah kita perjuangkan.
Sebab sebelum dunia memisahkan kita, aku pernah menjadi rumahmu, dan kamu pernah menjadi rumahku.