Sore itu, Jakarta tidak sedang berbaik hati. Langit menggantung kelabu, seperti cucian kotor yang lupa diperas. Di sebuah sudut Jakarta Selatan, di dalam sebuah kafe merangkap perpustakaan kecil bernama Selasar Kata, Ara sedang mencoba merapikan dunianya yang berantakan.
Ara—perempuan dengan rambut sebahu yang selalu diikat asal—sedang menata ulang rak buku di bagian fiksi. Tangannya bergerak lincah, namun matanya tampak lelah. Baginya, menyusun buku berdasarkan warna atau abjad adalah satu-satunya cara untuk merasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri. Di luar sana, orang-orang datang kepadanya membawa masalah, air mata, dan beban emosional. Sebagai seorang desainer grafis freelance yang juga sering dianggap "tempat curhat abadi" oleh teman-temannya, Ara sering lupa di mana batas antara masalah orang lain dan masalahnya sendiri.
Ia menghela napas, menghirup aroma kertas tua dan kopi saring.
"Ara, ada pelanggan yang butuh bantuan di pojok kiri," suara Mbak Gita, pemilik kafe, memecah lamunan Ara.
Ara menoleh, menyampirkan kain lap di bahunya. "Siap, Mbak."
Di pojok kiri itu, duduk seorang laki-laki yang tampak asing, namun entah mengapa terasa selaras dengan suasana kafe yang tenang. Laki-laki itu mengenakan kemeja flanel biru gelap yang lengannya digulung hingga siku. Di depannya, sebuah laptop menyala, menampilkan barisan kode pemrograman yang rumit. Di samping laptopnya, ada secangkir americano yang sudah mendingin dan sebuah buku catatan kecil yang penuh dengan coretan rapi namun padat.
Laki-laki itu adalah Nara.
Frekuensi yang Bergetar
Nara tidak mendongak saat Ara mendekat. Ia tampak sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Keningnya berkerut, menunjukkan garis-garis kelelahan yang nyata. Nara adalah tipe orang yang percaya bahwa logika bisa menyelesaikan segalanya. Baginya, perasaan adalah variabel acak yang hanya akan merusak fungsi sistem. Namun, hari itu, sistemnya sedang macet.
"Ada yang bisa saya bantu? Atau kopinya mau dipanaskan?" tanya Ara lembut. Suaranya tidak menginterupsi, melainkan menyelinap masuk seperti musik latar yang pas.
Nara mendongak. Matanya bertemu dengan mata Ara. Untuk sesaat, ada jeda yang aneh. Bukan jenis jatuh cinta pada pandangan pertama yang dramatis seperti di film-film, melainkan seperti dua frekuensi radio yang akhirnya menemukan gelombang yang sama setelah lama hanya mendengar suara statis.
"Ah," Nara berdeham, sedikit kikuk. "Saya mencari buku tentang arsitektur kota lama. Mbak Gita bilang ada di rak referensi, tapi saya tidak menemukannya."
Ara tersenyum tipis. "Oh, itu dipindahkan ke bagian sejarah minggu lalu. Mari, saya tunjukkan."
Nara mengikuti langkah Ara. Ia memperhatikan cara Ara berjalan—tenang, namun ada kesan berat di pundaknya. Sebagai orang yang terbiasa mengamati pola, Nara melihat sesuatu pada Ara. Perempuan ini adalah tipe penyembuh, pikirnya. Tipe orang yang akan memberikan payungnya kepada orang lain meskipun ia sendiri harus kehujanan.
"Ini bukunya," Ara mengambil sebuah buku bersampul cokelat tua dari rak paling atas. Karena tubuhnya tidak terlalu tinggi, ia harus berjinjit.
Nara refleks mengulurkan tangan untuk membantu, membuat jarak di antara mereka terkikis. Aroma parfum Ara—lavender dan sisa aroma hujan—tercium oleh Nara. Sejenak, Nara merasa logikanya sedikit goyah.
"Terima kasih," kata Nara setelah mengambil buku itu.
"Sama-sama. Saya Ara," ucapnya spontan, hal yang jarang ia lakukan pada orang asing.
"Nara," jawab laki-laki itu singkat, namun dengan nada yang lebih hangat dari sebelumnya.
Obrolan di Balik Jendela