Selasa selalu terasa seperti hari yang paling panjang bagi Ara. Jika Senin adalah kejutan budaya setelah akhir pekan, maka Selasa adalah realitas yang menghantam tanpa ampun. Pagi itu, langit Jakarta tidak berwarna biru, melainkan abu-abu pucat yang mengingatkan Ara pada warna tembok rumah sakit.
Di studio desain grafis tempatnya bekerja sebagai mitra lepas, Ara duduk di depan monitor yang memancarkan cahaya biru yang menyakitkan mata. Ia baru saja menyelesaikan revisi kesepuluh untuk sebuah logo perusahaan asuransi. Kliennya menginginkan warna biru yang "lebih ceria tapi tetap terlihat bijaksana"—sebuah permintaan abstrak yang menguras kewarasan.
Namun, bukan pekerjaan yang membuat bahu Ara terasa kaku.
Ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Siska, sahabatnya sejak SMA.
“Ra, gue berantem lagi sama Raka. Dia selingkuh lagi. Gue hancur banget, Ra. Bisa telepon sebentar?”
Ara memejamkan mata. Ia bisa merasakan dadanya menyempit. Ia ingin menjawab, ia ingin menghibur, ia ingin menjadi "Ara yang selalu ada". Tapi di dalam dirinya, ada bagian yang berteriak: Aku juga sedang tidak baik-baik saja.
Meski begitu, jemarinya bergerak mengetik: “Telepon saja, Sis. Aku dengerin.”
Selama satu jam berikutnya, Ara menjadi wadah. Ia menampung isak tangis Siska, makian Siska pada laki-laki itu, dan keraguan Siska yang berulang-ulang. Ara mendengarkan dengan penuh empati, memberikan saran-saran yang menenangkan, padahal ia sendiri merasa seperti spons yang sudah terlalu jenuh dengan air. Ia sudah penuh. Satu tetes lagi, dan ia akan tumpah.
Setelah telepon ditutup, Ara bersandar di kursinya. Ruangan studio itu terasa sunyi, namun kepalanya bising. Ia memikirkan Nara. Sudah enam jam sejak pesan terakhirnya dikirim ke Nara—sebuah ucapan "Semangat kerjanya, jangan lupa makan siang"—dan Nara hanya membalas dengan emoji jempol.
Hanya jempol.
Bagi orang lain, itu mungkin hal sepele. Tapi bagi Ara yang sensitif, jempol itu terasa seperti pintu yang ditutup di depan wajahnya.
Ruang Hampa di Balik Layar
Di sisi lain kota, di sebuah gedung perkantoran tinggi dengan kaca-kaca yang memantulkan kesibukan Sudirman, Nara sedang berada dalam "mode bertahan hidup".
Barisan kode di layarnya tampak seperti benang kusut. Ada bug di sistem pembayaran aplikasi yang sedang ia kembangkan, dan klien besar mereka mengancam akan memutus kontrak jika masalah itu tidak selesai dalam dua puluh empat jam. Atasan Nara baru saja keluar dari ruangannya setelah memberikan ceramah panjang tentang "tanggung jawab" dan "profesionalisme".
Nara menatap ponselnya. Ia melihat pesan Ara. Ia melihat perhatian itu. Ada rasa hangat yang sempat melintas, namun dengan cepat tertutup oleh rasa bersalah dan kecemasan.
Aku tidak pantas mendapatkan perhatian sesabar ini ketika aku bahkan tidak bisa membereskan pekerjaanku sendiri, pikir Nara.
Bagi Nara, menunjukkan kelemahan adalah sebuah dosa. Ia tumbuh dalam keluarga yang mengagungkan kekuatan. Ayahnya selalu berkata, "Laki-laki tidak mengeluh, laki-laki menyelesaikan masalah." Jadi, ketika ia merasa gagal di kantor, ia merasa tidak layak untuk berbicara dengan Ara. Ia takut jika ia membuka mulut, yang keluar hanyalah keluhan yang akan membuat Ara menjauh.
Ia memilih diam. Ia memilih menarik diri. Ia pikir ia sedang melindungi Ara dari sisi gelapnya, padahal ia sedang membangun tembok yang tinggi.
Pukul tujuh malam, Nara akhirnya mengirim pesan: “Baru selesai. Ketemu di tempat biasa? Aku jemput.”
Makan Malam yang Dingin
Tempat biasa mereka adalah sebuah kedai ramen kecil di area Melawai. Tempatnya remang-remang, dengan uap panas dari kuah kaldu yang memenuhi udara, biasanya memberikan rasa nyaman. Tapi malam ini, uap itu terasa menyesakkan.