Pagi hari setelah ketegangan di depan gerbang kos itu tidak membawa kelegaan yang diharapkan Ara. Seringkali, orang berpikir bahwa setelah sebuah kejujuran diucapkan, beban akan terangkat. Namun yang dialami Ara justru sebaliknya. Kejujuran itu seperti membuka kotak Pandora; sekarang, ia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Ara terbangun dengan kepala yang berat. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden tipisnya terasa terlalu terang, seolah-olah dunia memaksanya untuk segera bangun dan menghadapi kenyataan yang ingin ia hindari. Ia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading, tempat di mana bayangan kipas angin berputar dengan ritme yang membosankan.
Ia meraih ponselnya. Tidak ada pesan dari Nara.
Biasanya, Nara akan mengirimkan pesan singkat: "Sudah bangun? Jangan lupa sarapan." Sebuah pesan prosedural, namun cukup untuk membuat Ara merasa terhubung. Hari ini, layar itu kosong. Hanya ada notifikasi dari grup WhatsApp keluarga dan beberapa surel pekerjaan yang mendesak.
Keheningan dari Nara terasa lebih bising daripada teriakan.
Cermin Masa Lalu: Mengapa Ara Menjadi "Penyelamat"
Sambil menyeduh kopi di dapur kecil kosnya, pikiran Ara melayang jauh ke belakang. Ia ingat masa remajanya di sebuah rumah yang selalu terasa seperti berjalan di atas kulit telur. Ibunya, seorang perempuan yang lembut namun rapuh, hancur total setelah ayahnya pergi meninggalkan mereka demi perempuan lain.
Sejak usia lima belas tahun, Ara belajar untuk tidak memiliki masalah. Karena jika ia memiliki masalah, siapa yang akan mengurus ibunya? Ia belajar menekan amarahnya, menyembunyikan kesedihannya, dan menjadi telinga yang selalu siap mendengar ratapan sang ibu setiap malam.
"Kamu satu-satunya kekuatanku, Ara," kata ibunya berkali-kali sambil memeluknya erat, tanpa menyadari bahwa pelukan itu perlahan mencekik Ara.
Kenangan itu membuat Ara tersadar. Ia mencintai Nara dengan cara yang sama ia mencintai ibunya: dengan cara meniadakan dirinya sendiri. Ia merasa berharga hanya jika ia bisa menjadi penopang bagi orang lain. Dan sekarang, ketika Nara menutup diri, Ara merasa kehilangan fungsi hidupnya. Ia merasa gagal karena tidak bisa "memperbaiki" Nara.
"Aku bukan kekasihnya," bisik Ara pada uap kopi yang mengepul. "Aku cuma berusaha jadi penyelamat yang dia sendiri tidak minta."
Labirin Logika: Mengapa Nara Menjadi "Pelari"
Di belahan kota yang lain, Nara berdiri di depan cermin kamar mandinya, menatap wajahnya yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia baru saja muntah karena asam lambungnya naik—reaksi fisik yang selalu muncul setiap kali tingkat stresnya melampaui batas.
Pekerjaannya di perusahaan rintisan teknologi itu menuntut kesempurnaan. Di sana, kegagalan sistem berarti kerugian miliaran rupiah. Namun, bukan itu yang paling menakutkan bagi Nara. Yang paling menakutkan adalah tatapan kecewa Ara semalam.
Nara teringat ayahnya, seorang kolonel purnawirawan yang tidak pernah memuji, hanya menuntut. Setiap kali Nara kecil jatuh atau gagal dalam ujian, ayahnya tidak pernah memeluk. Beliau hanya akan berkata, "Evaluasi apa yang salah, perbaiki, dan jangan pernah tunjukkan wajah cengengmu lagi."
Nara tumbuh dengan keyakinan bahwa emosi adalah kelemahan. Jika ia merasa sedih, ia harus menyembunyikannya. Jika ia merasa takut, ia harus melawannya dengan logika.
Maka, ketika ia melihat Ara mulai terbebani oleh diamnya, logika Nara bekerja dengan cara yang salah. Jika keberadaanku membuatnya lelah, maka aku harus menjauh sampai aku bisa menjadi "versi yang lebih baik" agar tidak membebaninya lagi.