Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #5

Bab 4 : Labirin Kesunyian

Kehilangan seseorang yang masih ada di dunia ini seringkali terasa lebih berat daripada kehilangan mereka karena kematian. Dalam kematian, ada titik akhir yang jelas, ada proses berkabung yang sah. Namun dalam perpisahan yang menggantung, yang ada hanyalah sebuah ruang hampa yang dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban.


Minggu pertama setelah malam di depan gerbang kos itu, Ara merasa seperti sedang belajar berjalan kembali. Segala hal dalam kesehariannya seolah memiliki memori tentang Nara. Saat ia menyeduh kopi di pagi hari, ia teringat bagaimana Nara selalu protes jika kopinya terlalu manis. Saat ia melihat notifikasi cuaca yang memperingatkan hujan, jempolnya secara otomatis bergerak mencari kontak Nara untuk memberi tahu laki-laki itu agar membawa payung—sebelum akhirnya ia tersadar dan menarik napas panjang.

Dunia tetap berputar, namun bagi Ara, porosnya telah bergeser.


Ritual yang Hilang dan Hantu Digital


Ara duduk di meja kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan kanvas putih kosong. Sebagai desainer, ia biasanya bisa menemukan inspirasi dari hal-hal kecil di sekitarnya. Namun sekarang, matanya terasa kosong.

Ia melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan: membuka riwayat percakapannya dengan Nara. Ia menggulir ke atas, membaca pesan-pesan dari bulan-bulan pertama. Pesan yang penuh dengan antusiasme, janji-janji kecil, dan perhatian yang meluap. Lalu, ia melihat pesan-pesan di bulan terakhir. Singkat. Dingin. Penuh dengan alasan.

"Aku merindukanmu, tapi aku tidak merindukan rasa sakit yang kamu berikan," bisik Ara pada layar ponselnya.

Fenomena ini sering disebut sebagai withdrawal syndrome dalam sebuah hubungan. Otak Ara sudah terbiasa dengan dopamin yang dihasilkan dari interaksi dengan Nara, dan sekarang, ia mengalami sakau emosional. Bagian dari dirinya ingin memaki Nara, ingin bertanya kenapa dia begitu tega membiarkannya sendirian. Namun bagian lain dari dirinya, bagian yang paling bijaksana, berbisik bahwa ini adalah jalan satu-satunya agar ia tidak hancur lebih dalam.

Tiba-tiba, sebuah pesan masuk. Bukan dari Nara, tapi dari ibunya.

“Ara, uangnya sudah masuk. Terima kasih ya, Nak. Ibu tidak tahu harus bagaimana tanpamu. Kamu memang anak yang paling mengerti Ibu.”

Pujian itu biasanya membuat Ara merasa bangga. Tapi hari ini, pujian itu terasa seperti rantai yang semakin erat melilit lehernya. Ia menyadari bahwa ia telah menjadi "candu" bagi orang lain untuk merasa baik-baik saja, sementara ia sendiri sekarat.


Nara: Keberhasilan yang Hampa

Di sisi lain Jakarta, Nara baru saja menyelesaikan presentasi besar di depan investor. Masalah bug yang sempat mengancam posisinya telah ia selesaikan dengan bekerja tanpa henti selama 72 jam. Ia mendapat tepuk tangan. Ia mendapat pujian dari manajernya. Ia bahkan dijanjikan bonus akhir tahun yang besar.

Secara logika, Nara seharusnya merasa menang. Tapi saat ia kembali ke kubikelnya dan duduk sendirian di tengah kantor yang mulai sepi, rasa menang itu tidak ada.

Ia meraih ponselnya, ingin membagikan kabar baik ini kepada seseorang. Secara otomatis, nama Ara muncul di pikirannya. Ia ingin mengetik: "Aku berhasil, Ra. Masalah kantor selesai. Kita bisa makan malam enak malam ini."

Tapi jarinya berhenti di atas layar. Ia teringat tatapan mata Ara yang hancur malam itu. Ia teringat kalimat Ara: "Aku capek jadi orang yang selalu harus mengerti kamu."

Nara menyadari bahwa kesuksesannya di kantor tidak berarti apa-apa jika ia masih menjadi kegagalan dalam kehidupan emosionalnya sendiri. Ia telah memperbaiki barisan kode yang rusak, tapi ia tidak tahu cara memperbaiki dirinya yang rusak.

Ia mengambil sketsa rumah impian yang pernah ia tunjukkan pada Ara. Ia melihat denah taman yang luas itu. Dulu, ia membayangkan Ara akan duduk di sana, membaca buku sambil menyesap teh. Sekarang, taman itu terasa seperti kuburan bagi rencana-rencana yang ia bunuh sendiri karena ketakutannya.

Lihat selengkapnya