Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #6

Garis Yang Harus Di Tarik

Waktu tidak menyembuhkan luka; ia hanya memberikan ruang bagi kita untuk terbiasa hidup bersama luka tersebut. Bagi Ara, minggu-minggu setelah keputusannya untuk menjauh dari Nara terasa seperti berjalan di dalam air. Segalanya terasa berat, lambat, dan melelahkan. Namun, di tengah beban itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh: sebuah kesadaran bahwa ia tidak bisa terus-menerus menjadi payung bagi orang lain sementara dirinya sendiri kedinginan.

Pagi itu, udara di Jakarta terasa lebih bersih setelah hujan semalam. Ara duduk di teras kecil kosnya, memandangi tanaman sukulen yang baru ia beli. Ia sedang mempraktikkan apa yang psikolognya katakan sebagai "perhatian penuh" (mindfulness). Hanya duduk, bernapas, dan menyadari keberadaan dirinya tanpa harus memikirkan masalah siapa pun.

Namun, ketenangan itu terusik oleh getar ponsel di pangkuannya.



Konfrontasi: Cinta dan Batasan

Nama ibunya muncul lagi. Kali ini bukan sekadar pesan singkat, melainkan panggilan telepon bertubi-tubi. Ara menarik napas panjang, menenangkan debar jantungnya yang tiba-tiba melaju. Dulu, ia akan langsung mengangkatnya dengan rasa cemas. Sekarang, ia menunggu hitungan kelima sebelum menggeser layar hijau.

"Ya, Bu?"

"Ara! Kenapa lama sekali angkatnya? Ibu tadi pusing lagi, Bibi kamu juga belum pulang dari pasar, Ibu bingung..." suara ibunya mengalir seperti air bah, penuh dengan keluhan yang sudah dihafal Ara di luar kepala.

Biasanya, Ara akan langsung memberikan solusi. Ia akan menawarkan diri untuk memesankan makanan online, mengirim uang tambahan, atau menghabiskan satu jam berikutnya untuk mendengarkan keluh kesah ibunya hingga telinganya panas.

Tapi kali ini, Ara diam sejenak. Ia mengingat sesi terapinya kemarin. “Ara, kamu bukan orang tua dari ibumu. Kamu adalah anaknya. Kamu boleh menyayangi, tapi kamu tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan emosionalnya.”

"Ibu sudah minum obatnya?" tanya Ara tenang.

"Sudah, tapi tetap saja pusing. Kamu bisa pulang minggu ini? Ibu butuh kamu di sini. Rasanya sepi sekali, Ara. Sejak ayahmu pergi, hanya kamu yang Ibu punya..."

Inilah momennya. Momen di mana guilt-trip atau rasa bersalah yang dipaksakan itu mulai bekerja. Dulu, Ara akan menyerah. Ia akan membatalkan semua jadwalnya dan pulang demi memuaskan kebutuhan emosional ibunya.

"Ibu," suara Ara lembut namun ada ketegasan yang belum pernah terdengar sebelumnya.

"Ara tidak bisa pulang minggu ini. Ara banyak pekerjaan. Ibu kan bisa minta tolong Bibi untuk menemani kalau dia sudah pulang dari pasar."

Hening di seberang sana. Sebuah keheningan yang penuh dengan manipulasi emosional.

"Oh... jadi kamu sudah mulai berubah ya, Ra? Sudah tidak sayang lagi sama Ibu yang sudah membesarkanmu sendirian?"

Hati Ara perih. Rasanya seperti ditusuk jarum kecil yang tak kasat mata. Namun, ia bertahan.

"Ara sayang Ibu. Justru karena Ara sayang, Ara tidak mau Ibu terus-menerus bergantung pada Ara untuk merasa tenang. Ara juga sedang belajar untuk tenang, Bu. Ara butuh ruang untuk sembuh."

Lihat selengkapnya