Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #7

Sayang Yang Melelahkan

Ada sebuah jenis kesedihan yang tidak berisik. Ia tidak datang dengan teriakan atau piring yang pecah. Ia datang seperti kabut tipis di pagi hari; perlahan, dingin, dan tiba-tiba saja membuatmu kehilangan arah jalan pulang.

Setelah berminggu-minggu mencoba hidup dalam ruang masing-masing—Ara dengan batasan barunya dan Nara dengan upaya berkebunnya—mereka sampai pada sebuah kesepakatan tak tertulis untuk bertemu kembali. Bukan untuk memutuskan sesuatu, tapi karena rindu adalah magnet yang terlalu kuat untuk dilawan oleh dua orang yang masih menyimpan perasaan.

Mereka memilih bertemu di sebuah taman kota saat sore hari, tempat di mana langit terlihat luas dan suara bising kendaraan terdengar jauh, seolah-olah dunia memberi mereka panggung untuk sebuah percakapan akhir.

Canggung yang Akrab

Ara datang lebih dulu. Ia mengenakan kardigan rajut warna krem, tangannya menggenggam segelas cokelat hangat yang mulai mendingin. Ia duduk di bangku taman kayu, memperhatikan anak-anak kecil yang berlarian mengejar gelembung sabun. Ada rasa damai yang ia temukan dalam kesendiriannya belakangan ini, namun kehadiran bayangan Nara di pikirannya selalu menciptakan riak kecil di kolam ketenangannya.

Tak lama, Nara datang. Langkahnya tidak lagi seberat dulu, namun ada gurat keraguan di wajahnya. Ia membawa sebuah kantong kecil berisi camilan kesukaan Ara—sebuah kebiasaan lama yang sulit dihilangkan.

"Hai, Ra," sapa Nara pelan.

Ara mendongak, tersenyum tipis. "Hai, Nar. Kamu terlihat... lebih segar."

Nara duduk di samping Ara, menyisakan jarak sekitar tiga puluh sentimeter di antara mereka. Jarak yang secara fisik pendek, namun terasa seperti jurang yang dalam. "Aku mulai lari pagi. Dan tanamanku... mereka tumbuh, Ra. Meski ada satu yang mati karena aku terlalu banyak menyiramnya."

Ara mengangguk, mengerti metafora di balik ucapan Nara. "Kadang, keinginan kita untuk menjaga sesuatu justru bisa membunuhnya kalau kita tidak tahu takarannya, ya?"

Nara terdiam. Kalimat Ara tepat sasaran. Mereka berdua terdiam untuk waktu yang lama, membiarkan suara angin dan tawa anak-anak mengisi kekosongan di antara mereka.

Upaya yang Terpaksakan

Mereka mencoba mengobrol tentang hal-hal biasa. Nara bercerita tentang proyek kantornya yang mulai stabil, dan Ara bercerita tentang klien desainnya yang mulai belajar menghargai waktu istirahatnya. Sekilas, mereka tampak seperti pasangan normal yang sedang menikmati sore.

Namun, di bawah permukaan itu, ada tegangan yang tak kasat mata.

Setiap kali Nara mencoba menyentuh tangan Ara, Ara sedikit tersentak. Bukan karena ia benci, tapi karena setiap sentuhan itu membawa kembali memori tentang malam-malam penuh isak tangis dan rasa bersalah. Dan setiap kali Ara menatap mata Nara, Nara merasa seperti sedang diaudit; ia takut jika ia menunjukkan sedikit saja kelemahannya, ia akan kembali menjadi beban bagi Ara.

"Ra," panggil Nara, suaranya sedikit serak. "Aku merindukan kita. Maksudku, kita yang dulu. Sebelum semuanya jadi rumit."

Ara menatap lurus ke depan, ke arah matahari yang mulai tenggelam, menciptakan warna oranye yang dramatis di langit. "Masalahnya, Nar, 'kita yang dulu' itu dibangun di atas fondasi yang rapuh. Kita yang dulu itu adalah dua orang yang saling menggunakan satu sama lain sebagai plester untuk luka masing-masing. Begitu plester itu lepas, lukanya ternyata belum kering."

Lihat selengkapnya