Pagi pertama setelah perpisahan di taman itu tidak datang dengan drama. Tidak ada badai petir yang menyambar, tidak ada musik latar melankolis yang mengiringi langkah Ara saat ia terbangun. Hanya ada sinar matahari yang masuk dengan kurang ajar melalui celah jendela, menerangi debu-debu yang menari di udara kamar kosnya.
Ara menatap langit-langit. Kosong.
Biasanya, hal pertama yang ia lakukan adalah meraih ponsel, melihat apakah ada pesan "Selamat pagi" dari Nara, atau sekadar memeriksa apakah Nara sudah berangkat kerja agar ia bisa mengingatkan laki-laki itu untuk tidak melewatkan sarapan. Namun pagi ini, ponsel itu tergeletak bisu di atas meja nakas. Ara sengaja mematikan notifikasi untuk kontak Nara. Bukan karena benci, tapi karena ia tahu ia sedang dalam masa "detoks".
Mencintai Nara selama ini sudah menjadi candu. Dan seperti halnya pecandu yang mencoba berhenti, hari-hari pertama adalah yang paling menyakitkan.
Hantu di Balik Benda-Benda
Ara beranjak dari tempat tidur. Setiap sudut kamarnya seolah memiliki mulut yang membisikkan nama Nara. Ada sweter abu-abu milik Nara yang tertinggal di gantungan pintu—sweter yang baunya masih menyisakan aroma parfum kayu cendana dan sisa-sisa aroma kopi. Ada buku catatan kecil di meja belajar yang berisi coretan tangan Nara saat laki-laki itu mencoba menjelaskan konsep back-end padanya.
Ara mendekati sweter itu. Ia ingin memeluknya, menghirup aromanya, dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, jarinya berhenti beberapa sentimeter dari kain itu.
"Jangan, Ara," bisiknya pada diri sendiri. "Kalau kamu peluk sekarang, kamu akan meneleponnya. Dan kalau kamu meneleponnya, siklus lelah itu akan berulang."
Ia mengambil sweter itu dengan tangan gemetar, memasukkannya ke dalam sebuah kotak kardus, lalu melapisinya dengan selotip hingga rapat. Ia melakukan hal yang sama pada semua barang pemberian Nara. Bukan untuk dibuang, tapi untuk "diistirahatkan". Ara menyadari bahwa ia tidak bisa sembuh jika ia terus-menerus dikelilingi oleh pemicu memorinya.
Di dapur kecilnya, ia menyeduh teh. Ia melihat dua cangkir yang biasanya ia gunakan saat Nara berkunjung. Ia memilih cangkir yang berbeda, sebuah cangkir keramik biru yang jarang ia pakai.
"Mulai hari ini, semuanya harus baru," gumamnya, meski suaranya terdengar pecah.
Nara: Pelarian di Balik Angka
Di apartemennya yang minimalis, Nara sedang berada dalam fase yang berbeda. Jika Ara memilih untuk menghadapi kesedihannya dengan perlahan, Nara memilih untuk menguburnya di bawah tumpukan pekerjaan.
Sejak pukul enam pagi, Nara sudah berada di depan komputernya. Ia tidak sarapan. Ia tidak mandi. Ia hanya mengetik kode dengan kecepatan yang menakutkan. Baginya, angka dan logika adalah tempat persembunyian yang paling aman. Di dunia pemrograman, segalanya bisa diprediksi. Jika ada kesalahan, ia bisa melakukan undo. Jika sistem rusak, ia bisa mengunggah backup.
Namun, hidup bukan sebuah sistem operasi.
Setiap kali jari-jarinya berhenti bergerak, bayangan wajah Ara di taman sore itu muncul. Ia teringat bagaimana bibir Ara bergetar saat mengucapkan kata "capek". Ia teringat bagaimana tangan Ara yang biasanya hangat, terasa dingin saat melepaskan genggamannya.
Nara meraih ponselnya. Ia membuka aplikasi Instagram, jarinya secara otomatis mencari profil Ara. Ia hanya ingin tahu apakah Ara baik-baik saja. Apakah Ara sudah makan? Apakah Ara sudah tersenyum hari ini?