Hujan bulan November di Jakarta tidak pernah datang dengan sopan. Ia selalu mengetuk pintu dengan keras, membawa aroma aspal basah yang pekat dan suara guruh yang menggetarkan kaca-kaca jendela. Bagi Ara, hujan kali ini tidak lagi terasa seperti lagu sedih. Ia mulai belajar melihat hujan sebagai cara alam untuk membasuh debu-debu yang menumpuk.
Sudah satu bulan lebih sejak ia dan Nara memutuskan untuk berjalan di arah yang berbeda. Jika minggu-minggu awal adalah tentang bertahan hidup dari rasa sakit, maka minggu ini adalah tentang membangun kembali rumah yang telah lama ia telantarkan: dirinya sendiri.
Ruang Kreatif yang Baru
Ara berdiri di tengah kamar kosnya yang kini terasa lebih luas. Ia baru saja melakukan decluttering besar-besaran. Barang-barang yang tidak lagi memberinya kegembiraan—termasuk tumpukan majalah desain yang hanya membuatnya merasa tertinggal—telah ia donasikan.
Di pojok dekat jendela, kini berdiri sebuah meja kayu kecil yang ia beli dari pasar barang bekas. Di atas meja itu, tidak ada laptop kerja. Yang ada hanyalah kertas-kertas khusus cat air, kuas-kuas dengan berbagai ukuran, dan palet warna yang penuh dengan bercak sisa lukisan kemarin.
Ara mengambil sebuah kuas, mencelupkannya ke dalam air, lalu menyapukan warna ultramarine blue ke atas kertas. Ia tidak sedang menggambar untuk klien. Ia tidak sedang memikirkan apakah warna ini akan disukai orang lain.
Ia sedang melukis perasaannya.
"Selama ini, aku hanya menggunakan warna yang diminta dunia," bisik Ara pada dirinya sendiri.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Siska.
“Ra, ada pembukaan galeri kecil di Kemang besok malam. Mereka butuh ilustrator lepas untuk proyek zine komunitas. Kamu mau ikut? Cuma buat seru-seruan, nggak ada tekanan.”
Dulu, Ara akan bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah Nara akan merasa terganggu kalau aku pergi? Apakah aku punya energi untuk mendengarkan masalah orang-orang di sana?”
Sekarang, Ara mengetik: “Aku ikut. Sampai ketemu di sana.”
Ada sensasi aneh saat ia menekan tombol kirim. Rasa takut, tentu saja. Tapi di balik itu, ada percikan kegembiraan yang sudah lama padam. Ia mulai menyadari bahwa ia bisa memiliki kehidupan yang tidak berputar pada satu orang saja.
Nara: Menghadapi Sang Hakim Internal
Di sebuah ruangan berlantai kayu di kawasan Dharmawangsa, Nara duduk di sebuah kursi empuk yang terasa terlalu nyaman untuk ukuran orang yang sedang merasa gelisah. Di depannya, duduk dr. Aris, seorang psikolog dengan suara bariton yang menenangkan dan kacamata yang selalu bertengger di ujung hidung.