Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #10

Ujian Bagi Akar Yang Baru

Desember datang membawa hawa yang lebih lembap ke Jakarta. Jalanan seringkali tergenang, dan lampu-lampu kota tampak berpendar lebih buram di balik kaca jendela yang berembun. Bagi Ara, Desember kali ini bukan lagi tentang rencana perayaan akhir tahun bersama Nara. Desember kali ini adalah tentang mengukur seberapa kuat akar yang telah ia tanam dalam dirinya selama tiga bulan terakhir.

Sembuh ternyata bukan sebuah garis finis, melainkan sebuah latihan harian. Ada hari-hari di mana Ara merasa sangat kuat, namun ada pula malam-malam di mana rindu itu datang kembali, merayap seperti udara dingin yang menyelinap lewat celah pintu.



Godaan dari Masa Lalu


Sore itu, Ara baru saja menyelesaikan sebuah proyek ilustrasi sampul buku. Ia merasa puas. Karyanya kali ini terasa lebih "bernapas"; ia menggunakan sapuan cat air yang bebas, tidak lagi kaku dan terlalu patuh pada keinginan pasar.

Saat ia sedang membereskan mejanya, ponselnya bergetar. Sebuah nama muncul di layar, namun bukan Nara.

"Ibu?" Ara mengangkatnya.

"Ara... Ibu jatuh di kamar mandi," suara ibunya terdengar merintih, namun ada nada yang familiar di sana—nada yang memanggil "sang penyelamat". "Kaki Ibu terkilir, Bibi sedang pulang kampung. Ibu sendirian, Nak. Bisa kamu pulang sekarang?"

Jantung Ara berdegup kencang. Insting lamanya langsung berteriak: Ambil tas, pesan tiket, pulang sekarang juga! Lupakan pekerjaanmu, lupakan dirimu sendiri!

Namun, Ara menutup matanya sejenak. Ia menarik napas panjang, teknik grounding yang diajarkan psikolognya. Ia mencoba memilah: Apakah ini keadaan darurat medis yang mengancam nyawa, atau ini adalah cara lama ibunya untuk menariknya kembali ke dalam kendalinya?

"Ibu sudah telepon Dokter Gunawan di dekat rumah?" tanya Ara dengan suara yang diusahakan tetap stabil.

"Belum... Ibu cuma kepikiran kamu. Masa kamu tega lihat Ibu begini?"

"Ibu," Ara berkata dengan lembut namun sangat tegas. "Ara akan telepon Dokter Gunawan sekarang juga supaya beliau datang ke rumah. Ara juga akan pesan makanan untuk Ibu lewat aplikasi. Tapi Ara tidak bisa pulang hari ini. Ara ada pekerjaan yang harus selesai besok."

Hening. Lalu, ledakan itu datang. "Kamu benar-benar sudah tidak punya hati ya, Ara! Sejak kamu putus dari laki-laki itu, kamu jadi dingin sekali!"

Ara merasakan perih di dadanya, tapi kali ini ia tidak membiarkan rasa sakit itu melumpuhkannya. "Bukan dingin, Bu. Tapi Ara sedang belajar untuk tidak membiarkan diri Ara hancur demi membuat Ibu merasa nyaman. Ara sayang Ibu, dan karena itu Ara akan pastikan Ibu mendapat bantuan medis yang benar, bukan cuma sekadar kehadiran Ara untuk jadi bantal emosional Ibu."

Setelah menutup telepon, Ara terduduk di lantai. Ia gemetar. Menarik batasan dengan orang yang kita cintai adalah hal tersulit di dunia. Tapi malam itu, ia menyadari sesuatu: ia tidak merasa bersalah. Ia merasa sedih, ya, tapi tidak merasa bersalah. Itulah kemajuan.



Nara: Ketika Logika Menemukan Batasnya

Lihat selengkapnya