Satu tahun adalah waktu yang cukup bagi Jakarta untuk mengubah wajahnya—gedung-gedung baru menjulang, rute transportasi berganti, dan taman-taman kota yang dulu gersang kini mulai rimbun. Namun, satu tahun bagi jiwa manusia adalah sebuah keabadian yang sunyi. Bagi Ara, setahun terakhir ini adalah perjalanan dari kegelapan menuju cahaya yang teduh.
Ara bukan lagi perempuan yang selalu tampak terburu-buru dengan raut wajah cemas. Di usianya yang kini selangkah lebih dewasa, ia memancarkan ketenangan yang hanya bisa didapatkan dari seseorang yang telah selesai berperang dengan dirinya sendiri. Bisnis ilustrasinya berkembang pesat, bukan karena ia bekerja keras hingga sakit seperti dulu, tapi karena setiap karyanya memiliki "jiwa"—kejujuran yang hanya lahir dari hati yang sudah sembuh.
Pagi itu, Ara berdiri di depan cermin, mengenakan gaun linen berwarna hijau sage. Ia akan menghadiri sebuah seminar desain dan teknologi sebagai salah satu pembicara tamu. Ia tersenyum pada pantulannya.
"Kamu baik-baik saja, Ara," bisiknya. Dan ia benar-benar memaksudkannya.
Ruang yang Sama, Orang yang Berbeda
Seminar itu diadakan di sebuah pusat konvensi modern yang didominasi oleh kaca dan baja. Suasana riuh dengan percakapan tentang masa depan digital, kecerdasan buatan, dan estetika minimalis. Ara duduk di barisan depan, menanti gilirannya untuk naik ke panggung.
Namun, jantungnya mendadak berhenti berdetak sejenak saat pembawa acara memperkenalkan pembicara utama untuk sesi "Integrasi Manusia dalam Teknologi".
"Mari kita sambut, CTO dari Nexus Creative, Nara Aditya."
Dunia seolah melambat. Ara melihat sosok itu berjalan naik ke panggung. Nara.
Nara tampak sangat berbeda. Rambutnya dipotong lebih rapi, bahunya tegak, dan yang paling mencolok adalah matanya. Tidak ada lagi gurat kecemasan yang dulu selalu menghantuinya. Saat Nara mulai berbicara, suaranya terdengar stabil, penuh percaya diri, namun tetap rendah hati. Ia tidak lagi berbicara hanya tentang angka dan kode; ia berbicara tentang empati, tentang bagaimana teknologi harus melayani kesejahteraan mental penggunanya.
Ara terpaku. Ia mendengarkan setiap kata Nara, bukan sebagai seorang kekasih yang merindu, melainkan sebagai seorang profesional yang kagum. Nara telah benar-benar tumbuh. Ia telah menemukan bahasa emosinya sendiri.
Pertemuan di Balik Panggung
Setelah sesi selesai, Ara sedang merapikan tablet grafisnya di ruang tunggu pembicara yang lebih tenang. Ia mendengar langkah kaki yang mendekat—langkah kaki yang sangat ia kenal ritmenya.
"Presentasimu luar biasa, Ara. Penggunaan warna untuk merepresentasikan emosi... itu sangat menyentuh."
Ara menoleh. Nara berdiri di sana, hanya berjarak dua meter. Tidak ada lagi kecanggungan yang menyakitkan. Yang ada hanyalah rasa akrab yang baru, seperti bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak berkabar.
"Terima kasih, Nar," jawab Ara lembut. "Presentasimu juga... sangat berbeda dari cara bicaramu dulu. Kamu terlihat lebih 'manusia'."
Nara terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar ringan. "Aku belajar banyak dari tanaman kemangi yang mati itu, Ra. Dan dari sesi terapi yang panjang. Aku baru sadar kalau aku tidak harus jadi robot untuk dianggap hebat."