Jika hubungan mereka dulu adalah sebuah buku yang penuh dengan coretan kemarahan dan tumpahan air mata, maka pertemuan kali ini terasa seperti sebuah kertas putih yang baru saja diletakkan di atas meja. Bersih, namun sangat mendebarkan. Ada ketakutan untuk kembali menumpahkan tinta yang salah, namun ada gairah untuk melukis sesuatu yang lebih indah.
Satu minggu setelah pertemuan di seminar itu, Nara mengirimkan pesan singkat. Tidak ada lagi kalimat puitis yang berlebihan atau drama emosional.
“Ada pameran instalasi seni cahaya di Galeri Nasional sabtu sore ini. Aku ingat kamu pernah bilang ingin melihat bagaimana teknologi bisa menyatu dengan seni rupa. Mau pergi bersama sebagai teman?”
Ara menatap pesan itu selama sepuluh menit. Ia memeriksa dadanya sendiri; tidak ada sesak, tidak ada kecemasan. Ia mengetik balasannya dengan tenang.
“Boleh. Bertemu di sana jam empat sore? Aku bawa kendaraan sendiri, ya.”
Keputusan Ara untuk membawa kendaraan sendiri adalah sebuah pernyataan bawah sadar yang kuat: ia tidak lagi menggantungkan mobilitasnya—dan kebahagiaannya—pada kehadiran Nara.
Ruang di Antara Kita
Sabtu sore di Galeri Nasional terasa sejuk meskipun di luar matahari Jakarta sedang terik-teriknya. Ara sampai lebih dulu. Ia berdiri di depan sebuah instalasi berbentuk prisma kaca yang membiaskan cahaya pelangi ke seluruh ruangan.
"Cahayanya mengingatkanku pada teori warna yang kamu jelaskan di panggung tempo hari," suara Nara terdengar dari belakang.
Ara berbalik dan tersenyum. Nara mengenakan kemeja katun kasual berwarna biru gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia tampak santai, sebuah pemandangan yang langka di masa lalu.
"Hai, Nar. Kamu tepat waktu," ucap Ara.
"Aku sedang belajar menghargai waktu orang lain, bukan hanya waktuku sendiri," jawab Nara jujur.
Mereka berjalan menyusuri lorong-lorong galeri. Berbeda dengan kencan-kencan mereka setahun lalu yang biasanya dipenuhi oleh Nara yang mengeluh tentang pekerjaan atau Ara yang sibuk menenangkan kecemasan Nara, kali ini suasana terasa sangat berbeda. Mereka berbicara tentang karya seni di depan mereka. Mereka berdiskusi tentang teknik pencahayaan, tentang pesan di balik instalasi, dan tentang bagaimana perasaan mereka saat melihatnya.
Nara tidak lagi mencoba mendominasi percakapan. Ia lebih banyak mendengarkan. Ia memberikan ruang bagi Ara untuk menyelesaikan kalimatnya.
"Dulu," Nara memulai saat mereka berdiri di depan instalasi bertema 'Waktu', "setiap kali aku melihat karya seperti ini, kepalaku langsung menghitung biaya produksinya atau efisiensi alatnya. Sekarang, aku cuma mencoba... merasakannya. Ternyata jauh lebih melegakan."
Ara menoleh, menatap profil samping wajah Nara. "Itu kemajuan besar, Nar. Merasakan sesuatu tanpa harus menganalisisnya adalah bentuk kebebasan."
Ujian Refleks Lama