Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #14

Badai di Atas Fondasi Baru

Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa kekuatan sebuah bangunan tidak diuji saat cuaca cerah, melainkan saat badai besar menghantam atapnya. Bagi Ara dan Nara, dua minggu setelah "kencan sehat" mereka adalah masa tenang yang menipu. Mereka baru saja mulai percaya bahwa mereka bisa membangun sesuatu yang baru, namun semesta tampaknya ingin menguji apakah akar mereka sudah benar-benar menghujam ke dalam tanah atau hanya menempel di permukaan.

Ujian itu datang dalam dua bentuk yang berbeda, namun memiliki esensi yang sama: tekanan untuk kembali menjadi sosok penyelamat.



Serangan dari Masa Lalu: Kasus Keluarga Ara


Pagi itu, Ara sedang asyik menyelesaikan detail ilustrasi buku anak-anaknya. Ia merasa sangat produktif. Namun, ketenangannya pecah saat ponselnya bergetar. Bukan panggilan telepon biasa, melainkan serangkaian pesan suara dari bibinya di kampung.

"Ara, Ibu pingsan di pasar. Tekanan darahnya naik tinggi sekali. Dokter bilang Ibu depresi karena merasa kesepian. Beliau terus memanggil namamu, Ra. Tolong, jangan keras kepala lagi. Pulanglah dan tinggal di sini sebentar. Kerjaanmu kan bisa dilakukan dari mana saja."

Dada Ara berdegup kencang. Rasa bersalah—hantu lama yang paling ia takuti—mendadak muncul kembali dengan taring yang tajam. Ia merasakan dorongan impulsif untuk menutup laptopnya, memesan tiket kereta tercepat, dan menyerahkan seluruh hidupnya kembali untuk menjaga ibunya.

Ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di kamarnya. "Ini tugasmu sebagai anak," suara di kepalanya berbisik. Namun, suara lain—suara yang lebih tenang dari terapisnya—menyahut: "Kamu bisa peduli tanpa harus membiarkan dirimu hancur. Jangan kembali ke pola yang membuatmu sakit."

Ara tidak langsung membalas. Ia duduk diam selama tiga puluh menit, mengatur napasnya. Ia menghubungi Dokter Gunawan secara langsung untuk menanyakan kondisi medis yang sebenarnya. Ternyata, ibunya memang mengalami kenaikan tekanan darah, tapi kondisinya stabil dan sudah ditangani. "Hanya butuh istirahat, Ara. Tidak ada yang kritis," kata dokter itu.

Ara menarik napas lega. Ia menyadari bahwa pesan dari bibinya adalah bentuk manipulasi emosional yang tidak sengaja namun merusak.

Ara mengetik balasan: "Bibi, Ara sudah bicara dengan Dokter Gunawan. Ara akan kirim uang tambahan untuk perawat harian selama seminggu ini agar Ibu ada yang menemani. Tapi Ara tidak bisa tinggal di sana secara permanen. Ara punya tanggung jawab di sini. Tolong sampaikan pada Ibu kalau Ara sayang beliau, tapi Ara harus tetap bekerja."

Setelah mengirim pesan itu, Ara menangis. Bukan karena ia merasa menjadi anak durhaka, tapi karena ia menyadari betapa sulitnya untuk tetap menjadi "dewasa" saat orang-orang di sekitarmu menuntutmu untuk kembali menjadi "kecil".



Krisis Nara: Antara Ego dan Integritas


Di sisi lain kota, Nara menghadapi badainya sendiri. Seorang investor utama di perusahaannya, Pak Handoko, menuntut agar tim Nara mengabaikan protokol keamanan data demi mempercepat peluncuran fitur baru yang sedang viral.

"Kita butuh momentum, Nara! Masalah privasi itu bisa kita urus belakangan. Kalau kamu tidak bisa melakukannya minggu ini, posisi kamu sebagai CTO akan saya tinjau ulang," ancam Pak Handoko dalam rapat tertutup.

Dulu, Nara akan langsung panik. Ia akan menyanggupi permintaan itu hanya karena ia takut dianggap gagal atau tidak kompeten. Ia akan mengorbankan prinsipnya, bekerja lembur bagai mesin, dan akhirnya melampiaskan stresnya kepada siapapun yang ada di dekatnya—biasanya Ara.

Tapi Nara yang sekarang hanya menatap Pak Handoko dengan tenang.

Lihat selengkapnya