Jika Kita Bertemu Di Versi Terbaik

Valen Pahlintias
Chapter #15

Geografi Hari dan Jarak yang Jauh

Jakarta di bulan Februari sering kali terasa seperti sebuah tungku besar yang lembap. Udara seolah berhenti bergerak, terjepit di antara gedung-gedung pencakar langit yang memantulkan panas. Bagi Ara, panas ini biasanya memicu migrain yang mengganggu, namun belakangan ini, ia merasa lebih tangguh. Ia telah belajar bahwa banyak rasa sakit fisik sebenarnya adalah manifestasi dari kecemasan yang tidak tersalurkan. Sejak ia rutin berlatih yoga dan menetapkan batas waktu kerja, tubuhnya terasa seperti sekutu, bukan lagi beban.


Namun, ketenangan itu terusik oleh sebuah pesan dari Nara yang mengajaknya bertemu di sebuah taman terbuka di Jakarta Selatan, bukan untuk makan malam seperti biasa, melainkan untuk sebuah pembicaraan yang Nara sebut "cukup mendesak".


Tawaran yang Mengguncang


Nara duduk di sebuah kursi taman di bawah pohon trembesi yang rindang. Di depannya, sebuah laptop yang tertutup tampak seperti beban yang berat. Saat Ara datang, ia melihat Nara sedang menatap kosong ke arah kolam teratai.


"Hai, Nar. Kamu terlihat... sedang banyak pikiran," sapa Ara lembut sambil duduk di sampingnya.


Nara menoleh, mencoba tersenyum, meski matanya tidak bisa berbohong. "Aku baru saja menerima tawaran dari sebuah perusahaan fintech besar di Singapura, Ra. Mereka ingin aku menjadi Head of Engineering untuk ekspansi Asia Tenggara mereka."


Ara merasakan sebuah tarikan kecil di dadanya. Sebuah insting lama yang ingin berkata, "Jangan pergi," sempat melintas, namun ia segera menekannya. Ia menarik napas dalam, membiarkan oksigen menenangkan sarafnya.


"Singapura?" Ara mengulang nama kota itu.


"Itu pencapaian yang luar biasa, Nar. Bukankah itu yang selama ini kamu cita-citakan? Membangun sistem berskala regional?"


"Iya, secara profesional, ini adalah puncaknya," Nara menjelaskan. "Tapi secara pribadi... aku merasa ini adalah ujian yang curang. Kita baru saja mulai merasa 'sehat' di sini, Ra. Kita baru saja mulai menemukan ritme pertemuan kita yang baru. Dan sekarang, aku harus dihadapkan pada pilihan untuk pindah dalam waktu dua bulan."


Dilema Antara Dukungan dan Ketakutan


Selama satu jam berikutnya, percakapan mereka menjadi sangat dalam dan teknis secara emosional. Mereka tidak lagi berbicara seperti dua remaja yang takut berpisah; mereka berbicara seperti dua orang dewasa yang mencoba menyeimbangkan dua kehidupan yang berbeda.


Nara merasa bersalah. "Aku takut kalau aku pergi, kita akan kembali ke pola komunikasi yang buruk. Jarak jauh sering kali memicu rasa tidak aman, kecurigaan, dan keinginan untuk mengontrol. Aku tidak ingin merusak pertumbuhanmu hanya karena ambisiku."


Lihat selengkapnya