Bulan pertama Nara di Singapura terasa seperti sebuah simulasi kehidupan yang dipercepat. Kota itu efisien, bersih, dan sangat menuntut. Di kantor barunya yang terletak di pusat distrik bisnis Marina Bay, Nara bukan lagi sekadar pengembang senior; ia adalah nakhoda bagi tim multinasional yang berbicara dalam bahasa logika dan ambisi.
Namun, di tengah gemerlap lampu Clarke Quay dan hiruk pikuk kereta MRT yang nyaris tanpa cela, Nara sering kali merasakan sebuah "keheningan" yang aneh. Bukan keheningan karena tidak ada suara, melainkan keheningan karena absennya satu kehadiran yang selama ini menjadi kompas emosionalnya: Ara.
Di Jakarta, Ara juga sedang menavigasi realitas barunya. Ruang studio yang ia sewa kini menjadi dunianya. Tanpa kehadiran fisik Nara yang biasanya muncul di akhir pekan, Ara memiliki waktu yang hampir tak terbatas. Namun, ia menyadari bahwa waktu yang tak terbatas adalah pedang bermata dua. Ia bisa tenggelam dalam produktivitas, atau ia bisa tersesat dalam kerinduan yang melumpuhkan.
Pergeseran Komunikasi: Dari Kebutuhan ke Keinginan.
Dulu, saat mereka masih dalam pola hubungan yang tidak sehat, jarak beberapa kilometer saja bisa memicu puluhan pesan teks yang penuh dengan kecemasan. "Kamu di mana?", "Sudah makan belum?", "Kenapa pesanku tidak dibalas?"
Kini, dengan jarak ribuan kilometer dan laut yang memisahkan, mereka justru berkomunikasi dengan cara yang lebih bermakna. Mereka tidak lagi saling mengecek seperti sipir penjara. Mereka berbagi fragmen kehidupan.
Suatu malam, Nara mengirimkan sebuah foto pemandangan dari balkon apartemennya di lantai tiga puluh. Langit Singapura malam itu berwarna biru tua, dengan lampu-lampu kapal yang berkelap-kelip di kejauhan.
"Melihat ini, aku teringat lukisanmu yang berjudul 'Pulang'. Cahaya lampu di pelabuhan ini punya warna yang sama dengan sapuan kuasmu. Aku sedang menikmati keheningan ini, Ra. Dan aku bersyukur kita punya ruang ini."
Ara tidak langsung membalas. Ia sedang mencuci kuas-kuasnya. Setelah selesai, ia mengambil ponselnya, tersenyum, dan membalas:
"Nikmati cahayanya, Nar. Di sini, di Jakarta, sedang hujan deras. Suara rintiknya menemaniku menyelesaikan sketsa untuk pameran bulan depan. Aku merindukanmu, tapi aku juga sangat mencintai kedamaian di studioku malam ini."
Ini adalah bentuk komunikasi yang baru bagi mereka: Interdependensi, bukan Kodependensi. Mereka saling mencintai, tapi mereka tidak hancur hanya karena tidak sedang bersama secara fisik.
Ujian Jarak: Godaan Pola Lama
Namun, LDR tidak selalu tentang pesan-pesan manis. Ujian sesungguhnya datang saat salah satu dari mereka mengalami hari yang buruk.
Suatu Selasa, Nara menghadapi masalah besar. Salah satu infrastruktur server yang ia bangun mengalami glitch yang mengakibatkan kerugian finansial kecil bagi perusahaan. Atasannya, seorang pria berkebangsaan Jerman yang sangat disiplin, memberikan teguran keras. Ego Nara terluka. Insting lamanya bangkit—keinginan untuk segera menelepon Ara, menumpahkan semua kekesalannya, dan meminta Ara untuk memvalidasi bahwa dia tetap hebat meskipun dia gagal.
Nara sudah memegang ponselnya. Jarinya sudah berada di atas nama Ara. Namun, ia berhenti.
"Kalau aku meneleponnya sekarang dengan energi negatif ini, aku hanya akan menjadikannya tong sampah emosionalku lagi," batin Nara.
Ia meletakkan ponselnya. Sebagai gantinya, ia pergi ke pusat kebugaran di bawah apartemennya. Ia berlari di atas treadmill selama satu jam hingga napasnya memburu dan keringatnya membasahi lantai. Setelah pikirannya jernih dan emosinya stabil, barulah ia mengirim pesan pada Ara.