Dunia memiliki cara yang unik untuk menguji keseimbangan. Setelah masa-masa tenang yang penuh kedewasaan di bulan pertama LDR, Februari berakhir dengan sebuah guncangan yang tidak terduga. Jika Bab 17 adalah tentang menyelaraskan frekuensi, maka Bab 18 adalah tentang bagaimana mempertahankan frekuensi tersebut saat badai kebisingan mencoba memutusnya.
Di Singapura, Nara mulai merasa "nyaman" dengan ritme kerjanya, namun kenyamanan itu membawa tantangan baru: interaksi sosial yang lebih intens. Di Jakarta, Ara justru dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa kemandirian yang ia bangun akan diuji oleh panggilan tugas yang paling sulit diabaikan—kemanusiaan di dalam keluarganya.
Ujian Nara: Godaan di Balik Gemerlap Kota
Nara sedang duduk di sebuah bar atap gedung di kawasan Raffles Place bersama timnya untuk merayakan keberhasilan migrasi data. Di sampingnya duduk Claire, seorang manajer produk berbakat asal Australia yang baru bergabung dua minggu lalu. Claire cerdas, lugas, dan memiliki selera humor yang mirip dengan Nara.
"Kamu tahu, Nara," ucap Claire sambil menyesap minumannya, "kamu adalah CTO paling tenang yang pernah aku temui. Biasanya orang di posisimu akan meledak-ledak saat ada masalah server. Apa rahasiamu?"
Nara tersenyum kecil, teringat pada masa-masa ia hampir hancur di Jakarta. "Aku pernah meledak-ledak, Claire. Sampai aku menyadari bahwa ledakan itu tidak memperbaiki kode, hanya merusak manusia di sekitarku."
Claire menatap Nara dengan binar kekaguman yang jelas. Ia sedikit mendekat, aromanya yang wangi memenuhi ruang di antara mereka.
"Istrimu... atau pacarmu di Jakarta pasti sangat beruntung."
"Dia kekasihku," jawab Nara mantap, namun ia merasakan sebuah getaran ego yang menyenangkan saat dipuji oleh wanita semenarik Claire.
Sepanjang malam itu, Claire terus berada di dekat Nara. Ia menunjukkan ketertarikan yang lebih dari sekadar profesional. Ia menyentuh lengan Nara saat tertawa, ia menawarkan diri untuk mengantar Nara pulang karena mereka tinggal di arah yang sama.
Insting lama Nara—ego pria yang ingin divalidasi—sempat berbisik: "Tidak ada salahnya berteman lebih dekat. Ara tidak ada di sini. Kamu kesepian, kan?"
Namun, Nara segera menarik napas dalam. Ia melihat pantulan dirinya di gelas kaca. Ia teringat janjinya untuk menjadi pria yang utuh. Ia menyadari bahwa Claire bukanlah "godaan" dalam bentuk orang, melainkan godaan untuk kembali ke pola lama: mencari validasi dari luar saat ia merasa kosong.
"Terima kasih tawarannya, Claire. Tapi aku sudah memesan taksi. Dan aku harus segera melakukan panggilan video dengan Ara," ucap Nara dengan sopan namun sangat tegas.
Saat berjalan menuju taksi, Nara merasa bangga. Ia tidak lari karena takut ketahuan, tapi ia pergi karena ia tahu siapa yang paling berharga dalam hidupnya.
Ujian Ara: Antara Prinsip dan Bakti